Tampilkan postingan dengan label habbuka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label habbuka. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Maret 2011

AMINAH IBUNDA TERBAIK

Kematian Abdullah, tak pelak menyulut tangis yang berkepanjangan dari hati istrinya. Aminah tak kuasa dilanda kesedihan. Perempuan lembut itu menangis duka tak henti-hentinya. Rasanya, baru saja ia mengecap keindahan cinta, namun Tuhan telah merenggut suaminya dengan begitu cepat. Belum lama aura kasih meliputi kehidupannya, belum sempat pula ia bermanja-manja dengan suami. Dalam hitungan bulan, statusnya sebagai istri telah hilang terbang seperti daun kering. Melayang rapuh di langit. Bersamaan dengan terbangnya suka cita dari semburat wajahnya. Kedukaan ini datang secepat ketika kebahagiaan membalutnya karena tiba-tiba dipinang Abdullah.
Sesungguhnya rasa kehilangan ini amat manusiawi. Siapa pun yang berada pada posisi Aminah akan mengalami kedudukan yang tinggi. Ditambah Aminah perasaannya amat peka dan lembut. Namun, sekali lagi kuasa Tuhan ikut andil dalam hal ini. Kendati mengalami guncangan kehidupan, Tuhan memperkuat pondasi keimanan Aminah. Lewat kasih sayang-Nya, Dia menjaga kekuatan jiwa Aminah dalam menghadapi hari-hari kehamilannya. Aminah mengandung, tetapi sesekali tak merasa mengandung. Karena dirinya tidak merasa berat, penat, lembut atau bahkan mengalami ‘morning sick’ dan mual-mual. Kesehatan fisiknya setangguh ketika Aminah belum mengandung. Aminah bahkan kerap bermimpi hal-hal indah sekaligus misterius yang menguatkan cintanya pada sang bayi. Ia merasakan mimpi-mimpi itu memberinya kebahagiaan spiritual.
Para ahli tafsir menuturkan bahwa Aminah pernah bermimpi melihat seakan-akan dari bandannya keluar cahaya yang menerangi gedung-gedung di negari Syam. Bahkan sebuah suara ghaib telah terdengar di telinganya yang mengatakan bahwa dirinya sedang mengandung sebaik-baik insan di dunia. Dan menyuruhnya menamakan bayi itu dengan Muhammad (terpuji) kemudian merahasiakan hal ini.
Pada titik inilah sesungguhnya Aminah mencapai ketinggian kecerdasan spiritualnya. Di mana meskipun dilanda kesediahan, ia tetap memasrahkan dirinya kepada Tuhan. Kepasrahan yang kemudian melahirkan cinta pada sang jabang bayi yang akhirnya melahirkan kabahagiaan hatinya dan menguatkan jiwanya. Aminah sadar, sebagai manusia ia hanya bisa bersikap menerima apa pun yang menjadi takdirnya dengan tanpa prasangka sedikit pun. Apakah itu prasangka buruk, bahkan prasangka baik sekali pun. Keikhlasan yang total. Inilah satu-satunya jalan untuk meraih cinta Tuhan dengan mematikan rasa sedih dalam dirinya dan menggantikannya dengan setitik cinta. Ia ‘korbankan’ kepedihan jiwanya dengan menafikannya, lalu menyelemuti hatinya dengan iman. Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah menunjuk Aminah sebagai ibunda dari manusia terbaik di dunia ini. Sikap ikhlasnya menunjukkan kecerdasan spiritual Aminah, dari rahimnyalah Nabi Muhammad kelak dilahirkan.
Pada malam tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah atau 20 April 571 M, Aminah melahirkan bayi laki-laki mungil dan lucu, lewat persalinan paling sempurna yang pernah terjadi di alam ini. Tanpa merasa sakit, tanpa keringat yang menetes atau sekadar erangan layaknya perempuan yang akan melahirkan. Bahkan tanpa darah setetes pun. Aminah melahirkan bayinya dengan diringi aura kesunyian dan ketentraman batin. Instrument alam yang luar biasa. Konon pula, dari badan si bayi seakan-akan memancarkan cahaya putih dan lembut.
Kelahiran Muhammad kecil seakan-akan telah ‘menutup’ derita yang dialami Aminah dan Abdul Muthalib karena kematian Abdullah. Muhammad telah menjadi bentuk kebahagiaan tersendiri yang menyinari hati Aminah dan Abdul Muthalib. Menjadi tempat curahan cinta keduanya, menjadi harapan dan sanjungan hati. Kehadiran Muhammad, bahkan melebihi kebahagiaan apapun yang pernah mereka rasakan. Muhammad adalah karunia luar biasa.
Sumber:
Abdul Hamid Judah As Sahar. Sejarah Nabi Muhammad, Periode Mekkah. Mizan: Bandung. hlm. 78-80
Hamim Thohari. Tumbuh Kembang Kecerdasan Emosi Nabi. Pustaka Inti: Bekasi. 2006. hlm. 25-27
Karen Amstrong. Muhammad Sang Nabi, Sebuah Biografi Kritis. Risalah Gusti: Surabaya. hlm. 86

Abdullah Dan Aminah, Sepasang Manusia Pilihan

images10
Lepas sebagai ‘korban’ nazar sang ayah, Abdullah tumbuh menjadi pemuda gagah, baik hati, cerdas dan berkribadian kuat. Konon, dari wajahnya terpantul cahaya yang menyimpan makna besar. Kendati hal ini masih diperdebatkan namun charisma yang terpancar dalam diri Abdullah telah menjadikannya sebagai pemuda Quraisy yang paling didamba oleh para gadis dan para orangtua yang ingin mencarikan jodoh anaknya. Namun tak bisa dipungkiri, kedudukan sang ayah, Abdul Muthalib yang menjadi pemimpin kaum Quraisy, amat menggoda dan berperan penting dalam hal ini. Ditambah lagi fakta bahwa diantara 10 anak laki-laki Abdul Muthalib, hanya Abdullah yang terlihat jelas mewarisi talenta kepemimpinan Abdul Muthalib. Kendati sebagai anak, gelar itu tidak serta merta akan jatuh pada Abdullah. Masih perlu pembuktian bahwa Abdullah adalah anggota suku yang terbaik sehingga ia layak menjadi pemimpin.
Namun memang tanda-tanda bahwa Abdullah akan menjadi pemimpin besar, telah terlihat sejak ia kecil. Ibunda Abdullah bernama Fathimah binti ‘Amr bin ‘Aidz bin ‘Imran bin Makhzum bin Yaqzhzh bin Murrah. Dan Allah SWT telah menggariskan jodoh amat sepadan baginya, Aminah binti Wahab bin Abdi Manaf bin Zuhrah.
Aminah, konon pula dikenal sebagai gadis menawan yang berhati lembut dan peka. Sejarah mencatat bahwa nasab Aminah adalah sebuah nasab yang bersih lagi terpelihara.
Pada saat pertama ia tahu akan diperistri Abdullah, saat itu pulalah telah tumbuh cinta dalam dirinya. Padahal keduanya belum pernah bertemu ataupun bertutur kata. Namun reputasi Abdullah telah dikenal seantero negeri. Siapakah perempuan yang tak pernah bermimpi menjadi istri Abdullah?
Pinangan Abdul Muthalib untuk Aminah dirasakan Aminah bagaikan bintang jatuh. Bagi Wahab bin Abdi Manaf Bin Zuhrah sendiri, selain Abdullah adalah pemuda sopan dan baik budi, berbesan dengan Bani Hasyim adalah kehormatan besar yang tiada tara… Karena kedudukan Abdul Muthalib sebagai pemimpin kaum Quraisy, orang terpandang di tanah Arab, penguasa Kabah, rumah Tuhan yang mulia. Menjadi satu dengan keluarga Abdul Muthalib adalah sama dengan mengangkat harkat dan kedudukan keluarga Wahab.
Akhirnya pernikahan paling sempurna di alam dua dimensi ini terjadilah. Betapa berbahagia kedua mempelai. Kendati keduanya belum pernah bersua, namun Allah telah menitipkan rasa cinta diantara mereka. Cinta antara dua mahkluk berbeda jenis yang terikat dalam satu ikatan suci. Cinta indah yang menggelora dan membuai keduanya. Betapa manis dan indahnya hidup ketika cinta membungkus hati. Rasa bahagia membuncah di hati kedua pengantin baru itu. Kebahagiaan yang senantiasa melahirkan kebaikan kebaikan bagi orang-orang sekelilingnya. Maha Cinta Allah yang telah mempersilahkan keduanya untuk saling mencintai, sehingga kebahagiaan dan kebaikan selalu terpancar dari kalbu mereka. Karena, sungguh, dari pertemuan nasab Aminah dan Abdullah pula, akan lahir kafilah terakhir dan termulia. Muhammad Rasulullah.
Rasa cinta kasih yang semakin hari semakin besar membuat Aminah dan Abdullah begitu berbahagia. Seakan mereka enggan berpisah, walau sedetik jua. Maha Suci Allah yang telah menanamkan rasa cinta di hati keduanya.
Karena situasi psikologis seperti ini penting bagi mahkluk hidup yang berakal ketika mereka ingin berkembang biak. Dan Allah menginginkan Muhammad lahir dari benih yang sempurna,
Karena kelak, Muhammad harus memanggul beban yang amat berat dalam menjalankan risalahnya.
Limabelas abad kemudian, ilmu pengetahuan tepatnya Ilmu Psikologi Klinis membuktikan bahwa rasa bahagia memberi dampak fisiologis yang luar biasa bagi manusia. Profesor Lee S. Berk, dari School of medicine and Public Health di loma Linda University, California, menemukan bahwa kebahagiaan mampu menambah jumlah dan kualitas sel-sel imun, yang bertugas untuk menyerang dan membersihkan antigen (mahkluk ‘alien’ yang dapat merusak tubuh kita), menyerang tumor atau sel-sel yang terkena infeksi virus. Menurunkan kortisol dan dengan begitu mengurangi bahaya stress. Kortisol adalah sejenis hormone katabolis yang ‘membakar dan melindungi’ – menggunakan energi tubuh kita untuk melindungi diri kita dari ancaman. Bila kortisol diproduksi pada waktu yang lama, ia dapat menghancurkan tubuh kita. Inilah hormone yang keluar ketika kita menderita stress. Rasa bahagia juga menaikkan endorphin, endogenous morphin, morfin yang diproduksi pabrik farmasi dalam tubuh kita. Berguna untuk menghilangkan rasa sakit dan menjadi obat penenang. Menambah konsentrasi IgA, zat yang berada di barisan paling depan untuk melawan infeksi pernafasan bagian atas (Upper respiratory infection, URI).
Penelitian Ilmu Kedokteran menunjukkan, hingga berabad-abad kemudian ternyata situasi emosional pasien sangat mempengaruhi perkembangan kesehatan fisiknya.
Inilah rahasia besar dari Tuhan ketika memulai ciptaanNya dari rasa bahagia sepasang insan. Kebahagiaan ternyata menjadikan tubuh sehat dan kebal. Dalam situasi psikologis seperti inilah Tuhan memulai penciptaanNya. Di rahim Aminah, mulai terbuahi satu sel kehidupan yang kelak akan menjadi Kekasih Allah dan tuntunan umat manusia.
Namun, layaknya ibu muda, Aminah tidak sadar kalau dirinya hamil. Ketika saatnya tiba bagi Abdullah untuk pergi berdagang, Aminah pun belum menyadari jika telah mengandung. Begitulah, sebagaimana para pemuda Arab lainnya, sesuai adat kebiasaan mereka, Abdullah harus pergi berdagang mencari nafkah untuk keluarganya. Keahlian Abdullah memang dalam hal perdagangan. Seperti keluarga-keluarganya yang juga dikenal sebagai pedagang handal. Kendati Abdullah anak pemimpin Quraisy, itu tidak berarti ia cukup berpangku tangan, menunggu rizki orangtuanya.
Tidak mungkin seorang Quraisy tidak bekerja, karena kehormatan mereka terletak pada kegigihannya bekerja mencari nafkah. Masyarakat Arab pada saat itu sangat membenci orang-orang yang malas dan hanya bersantai-santai di Mekah. Kendati mereka juga gemar bersenang-senang sambil meminum arak, namun itu semua dilakukan bila pekerjaan dagang mereka telah usai.
Itulah sebabnya meski baru beberapa bulan menjadi pengantin baru, Abdullah harus pergi berdagang ke negeri Syambersama beberapa kelompok pedagang Quraisy lainnya dalam satu kafilah besar. Pada saat itulah kehamilan Aminah berusia kira-kira dua bulan. Namun ia tetap tidak menyadarinya. Pengantin baru itu pun harus berpisah dengan cepat karena Abdullah harus bekerja. Aminah melepas kepergian Abdullah dengan hati yang berat. Terasa ada getaran getaran halus yang menyentak dalam dadanya. Melahirkan kepiluan yang tak sanggup diutarakan Aminah. Pun sebaliknya, Abdullah serasa enggan berpisah walau sekejap saja. Perpisahan sementara itu terasa sulit bagi sepasang pengantin baru yang begitu saling mencintai.
Namun tak seorang pun menyangka, bahwa kepergian sementara itu adalah selamanya. Sebuah takdir yang amat memilukan tengah dirajut Sang Pemilik Kehidupan untuk dipersembahkan kepada manusia-manusia pilihanNya.

BIOGRAFI SIT AISYAH

Siti Khadijah adalah putri Khuwailid bin As’ad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab al-Qurasyiyah al-Asadiyah. Siti Khadijah dilahirkan di rumah yang mulia dan terhormat, pada tahun 68 sebelum hijrah. Khadijah tumbuh dalam lingkungan yang keluarga yang mulia, sehingga akhirnya setelah dewasa ia menjadi wanita yang cerdas, teguh, dan berperangai luhur. Karena itulah banyak laki-laki dari kaumnya yang menaruh simpati padanya. Syaikh Muhammad Husain Salamah menjelaskan bahwa Siti Khadijah, nasab dari jalur ayahnya bertemu dengan nasab Rasulullah pada kakeknya yang bernama Qushay. Dia menempati urutan kakek keempat bagi dirinya.
Pada tahun 575 Masehi, Siti Khadijah ditinggalkan ibunya. Sepuluh tahun kemudian ayahnya, Khuwailid, menyusul. Sepeninggal kedua orang tuanya, Khadijah dan saudara-saudaranya mewarisi kekayaannya. Kekayaan warisan menyimpan bahaya. Ia bisa menjadikan seseorang lebih senang tinggal di rumah dan hidup berfoya-foya. Bahaya ini sangat disadari Khadijah. Ia pun memutuskan untuk tidak menjadikan dirinya pengangguran. Kecerdasan dan kekuatan sikap yang dimiliki Khadijah mampu mengatasi godaan harta. Karenanya, Khadijah mengambil alih bisnis keluarga.
Pada mulanya, Siti Khadijah menikah dengan Abu Halah bin Zurarah at-Tamimi. Pernikahan itu membuahkan dua orang anak yang bernama Halah dan Hindun. Tak lama kemudian suamianya meninggal dunia, dengan meninggalkan kekayaan yang banyak, juga jaringan perniagaan yang luas dan berkembang. Lalu Siti Khadijah menikah lagi untuk yang kedua dengan Atiq bin ‘A’id bin Abdullah al-Makhzumi. Setelah pernikahan itu berjalan beberapa waktu, akhirnya suami keduanya pun meninggal dunia, yang juga meninggalkan harta dan perniagaan.
Dengan demikian, saat itu Siti Khadijah menjadi wanita terkaya di kalangan bangsa Quraisy. Karenanya, banyak pemuka dan bangsawan bangsa Quraisy yang melamarnya, mereka ingin menjadikan dirinya sebagai istri. Namun, Siti Khadijah menolak lamaran mereka dengan alas an bahwa perhatian Khadijah saat itu sedang tertuju hanya untuk mendidik anak-anaknya. Juga dimungkinkan karena, Khadijah merupakan saudagar kaya raya dan disegani sehingga ia sangat sibuk mengurus perniagaan.
Siti Khadijah mempunyai saudara sepupu yang bernama Waraqah bin Naufal. Beliau termasuk salah satu dari hanif  di Mekkah. Ia adalah sanak keluarga Khadijah yang tertua. Ia mengutuk bangsa Arab yang menyembah patung dan melakukan penyimpangan dari kepercayaan nenek moyang mereka (nabi Ibrahim dan Ismail).
Para sejawatnya mengakui keberhasilan Siti Khadijah, ketika itu mereka memanggilnya “Ratu Quraisy” dan “Ratu Mekkah”. Ia juga disebut sebagai at-Thahirah, yaitu “yang bersih dan suci”. Nama at-Thahirah itu diberikan oleh sesama bangsa Arab yang juga terkenal dengan kesombongan, keangkuhan, dan kebanggaannya sebagai laki-laki. Karenanya perilaku Khadijah benar-benar patut diteladani hingga ia menjadi terkenal di kalangan mereka.
Pertama kali dalam sejarah bangsa Arab, seorang wanita diberi panggilan Ratu Mekkah dan juga dijuluki at-Thahirah. Orang-orang memanggil Khadijah dengan Ratu Mekkah karena kekayaannya dan menyebut Khadijah dengan at-Thahirah karena reputasinya yang tanpa cacat.
Suatu ketika, Muhammad berkerja mengelola barang dagangan milik Siti Khadijah untuk dijual ke Syam bersama Maisyarah. Setibanya dari berdagang Maysarah menceritakan mengenai perjalanannya, mengenai keuntungan-keuntungannya, dan juga mengenai watak dan kepribadian Muhammad. Setelah mendengar dan melihat perangai manis, pekerti yang luhur, kejujuran, dan kemampuan yang dimiliki Muhammad, kian hari Khadijah semakin mengagumi sosok Muhammad. Selain kekaguman, muncul juga perasaan-perasaan cinta Khadijah kepada Muhammad.
Tibalah hari suci itu. Maka dengan maskawin 20 ekor unta muda, Muhammad menikah dengan Siti Khadijah pada tahun 595 Masehi. Pernikahan itu berlangsung diwakili oleh paman Khadijah, ‘Amr bin Asad. Sedangkan dari pihak keluarga Muhammad diwakili oleh Abu Thalib dan Hamzah. Ketika Menikah, Muhammad berusia 25 tahun, sedangkan Siti Khadijah berusia 40 tahun. Bagi keduanya, perbedaan usia yang terpaut cukup jauh dan harta kekayaan yang tidak sepadan di antara mereka, tidaklah menjadi masalah, karena mereka menikah dilandasi oleh cinta yang tulus, serta pengabdian kepada Allah. Dan, melalui pernikahan itu pula Allah telah memberikan keberkahan dan kemuliaan kepada mereka.
Dari pernikahan itu, Allah menganugerahi mereka dengan beberapa orang anak, maka dari rahim Siti Khadijah lahirlah enam orang anak keturunan Muhammad. Anak-anak itu terdiri dari dua orang laki-laki dan empat orang perempuan. Anak laki-laki mereka, al-Qasim dan dan Abdullah at-Tahir at-Tayyib meninggal saat bayi. Kemudian, empat anak perempuannya adalah Zainab, Ruqayyah, Ummi Kulsum, dan Fatimah az-Zahra. Siti Khadijah mengasuh dan membimbing anak-anaknya dengan bijaksana, lembut, dan penuh kasih sayang, sehingga mereka pun setia dan hormat sekali kepada ibunya.
Setelah berakhirnya pemboikotan kaum Quraisy terhadap kaum muslim, Siti Khadijah sakit keras akibat beberapa tahun menderita kelaparan dan kehausan. Semakin hari kondisi kesehatan badannya semakin memburuk. Dalam sakit yang tidak terlalu lama, dalam usia 60 tahun, wafatlah seorang mujahidah suci yang sabar dan teguh imannya, Sayyidah Siti Khadijah al-Kubra binti Khuwailid.
Siti Khadijah wafat dalam usia 65 tahun pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-10 kenabian, atau tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah atau 619 Masehi. Ketia itu, usia Rasulullah sekitar 50 tahun. Beliau dimakamkan di dataran tinggi Mekkah, yang dikenal dengan sebutan al-Hajun.
Karena itu, peristiwa wafatnya Siti Khadijah sangat menusuk jiwa Rasulullah. Alangkah sedih dan pedihnya perasaan Rasulullah ketika itu. Karena dua orang yang dicintainya (Khadijah dan Abu Thalib) telah wafat, maka tahun itu disebut sebagai ‘Aamul Huzni (tahun kesedihan) dalam kehidupan Rasulullah.
Sumber Asli:
Arief, Nurhaeni. Engkau Bidadari Para Penghuni Surga, Kisah Teladan Wanita Saleha. Kafila: Yogyakarta: 2008
Taman, Muslich. Pesona Dua Ummul Mukminin, Teladan Terbaik Menjadi Wanita Sukses dan Mulia. Pustaka Al-Kautsar: Jakarta. 2008
Razwy, Syeda. A. Khadijah, The Greatest of First Lady of Islam. Alawiyah Abdurrahman (terj.). Mizan Publika: Jakarta. 2007

BIOGRAFI SITI KHATIJAH

Siti Khadijah adalah putri Khuwailid bin As’ad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab al-Qurasyiyah al-Asadiyah. Siti Khadijah dilahirkan di rumah yang mulia dan terhormat, pada tahun 68 sebelum hijrah. Khadijah tumbuh dalam lingkungan yang keluarga yang mulia, sehingga akhirnya setelah dewasa ia menjadi wanita yang cerdas, teguh, dan berperangai luhur. Karena itulah banyak laki-laki dari kaumnya yang menaruh simpati padanya. Syaikh Muhammad Husain Salamah menjelaskan bahwa Siti Khadijah, nasab dari jalur ayahnya bertemu dengan nasab Rasulullah pada kakeknya yang bernama Qushay. Dia menempati urutan kakek keempat bagi dirinya.
Pada tahun 575 Masehi, Siti Khadijah ditinggalkan ibunya. Sepuluh tahun kemudian ayahnya, Khuwailid, menyusul. Sepeninggal kedua orang tuanya, Khadijah dan saudara-saudaranya mewarisi kekayaannya. Kekayaan warisan menyimpan bahaya. Ia bisa menjadikan seseorang lebih senang tinggal di rumah dan hidup berfoya-foya. Bahaya ini sangat disadari Khadijah. Ia pun memutuskan untuk tidak menjadikan dirinya pengangguran. Kecerdasan dan kekuatan sikap yang dimiliki Khadijah mampu mengatasi godaan harta. Karenanya, Khadijah mengambil alih bisnis keluarga.
Pada mulanya, Siti Khadijah menikah dengan Abu Halah bin Zurarah at-Tamimi. Pernikahan itu membuahkan dua orang anak yang bernama Halah dan Hindun. Tak lama kemudian suamianya meninggal dunia, dengan meninggalkan kekayaan yang banyak, juga jaringan perniagaan yang luas dan berkembang. Lalu Siti Khadijah menikah lagi untuk yang kedua dengan Atiq bin ‘A’id bin Abdullah al-Makhzumi. Setelah pernikahan itu berjalan beberapa waktu, akhirnya suami keduanya pun meninggal dunia, yang juga meninggalkan harta dan perniagaan.
Dengan demikian, saat itu Siti Khadijah menjadi wanita terkaya di kalangan bangsa Quraisy. Karenanya, banyak pemuka dan bangsawan bangsa Quraisy yang melamarnya, mereka ingin menjadikan dirinya sebagai istri. Namun, Siti Khadijah menolak lamaran mereka dengan alas an bahwa perhatian Khadijah saat itu sedang tertuju hanya untuk mendidik anak-anaknya. Juga dimungkinkan karena, Khadijah merupakan saudagar kaya raya dan disegani sehingga ia sangat sibuk mengurus perniagaan.
Siti Khadijah mempunyai saudara sepupu yang bernama Waraqah bin Naufal. Beliau termasuk salah satu dari hanif  di Mekkah. Ia adalah sanak keluarga Khadijah yang tertua. Ia mengutuk bangsa Arab yang menyembah patung dan melakukan penyimpangan dari kepercayaan nenek moyang mereka (nabi Ibrahim dan Ismail).
Para sejawatnya mengakui keberhasilan Siti Khadijah, ketika itu mereka memanggilnya “Ratu Quraisy” dan “Ratu Mekkah”. Ia juga disebut sebagai at-Thahirah, yaitu “yang bersih dan suci”. Nama at-Thahirah itu diberikan oleh sesama bangsa Arab yang juga terkenal dengan kesombongan, keangkuhan, dan kebanggaannya sebagai laki-laki. Karenanya perilaku Khadijah benar-benar patut diteladani hingga ia menjadi terkenal di kalangan mereka.
Pertama kali dalam sejarah bangsa Arab, seorang wanita diberi panggilan Ratu Mekkah dan juga dijuluki at-Thahirah. Orang-orang memanggil Khadijah dengan Ratu Mekkah karena kekayaannya dan menyebut Khadijah dengan at-Thahirah karena reputasinya yang tanpa cacat.
Suatu ketika, Muhammad berkerja mengelola barang dagangan milik Siti Khadijah untuk dijual ke Syam bersama Maisyarah. Setibanya dari berdagang Maysarah menceritakan mengenai perjalanannya, mengenai keuntungan-keuntungannya, dan juga mengenai watak dan kepribadian Muhammad. Setelah mendengar dan melihat perangai manis, pekerti yang luhur, kejujuran, dan kemampuan yang dimiliki Muhammad, kian hari Khadijah semakin mengagumi sosok Muhammad. Selain kekaguman, muncul juga perasaan-perasaan cinta Khadijah kepada Muhammad.
Tibalah hari suci itu. Maka dengan maskawin 20 ekor unta muda, Muhammad menikah dengan Siti Khadijah pada tahun 595 Masehi. Pernikahan itu berlangsung diwakili oleh paman Khadijah, ‘Amr bin Asad. Sedangkan dari pihak keluarga Muhammad diwakili oleh Abu Thalib dan Hamzah. Ketika Menikah, Muhammad berusia 25 tahun, sedangkan Siti Khadijah berusia 40 tahun. Bagi keduanya, perbedaan usia yang terpaut cukup jauh dan harta kekayaan yang tidak sepadan di antara mereka, tidaklah menjadi masalah, karena mereka menikah dilandasi oleh cinta yang tulus, serta pengabdian kepada Allah. Dan, melalui pernikahan itu pula Allah telah memberikan keberkahan dan kemuliaan kepada mereka.
Dari pernikahan itu, Allah menganugerahi mereka dengan beberapa orang anak, maka dari rahim Siti Khadijah lahirlah enam orang anak keturunan Muhammad. Anak-anak itu terdiri dari dua orang laki-laki dan empat orang perempuan. Anak laki-laki mereka, al-Qasim dan dan Abdullah at-Tahir at-Tayyib meninggal saat bayi. Kemudian, empat anak perempuannya adalah Zainab, Ruqayyah, Ummi Kulsum, dan Fatimah az-Zahra. Siti Khadijah mengasuh dan membimbing anak-anaknya dengan bijaksana, lembut, dan penuh kasih sayang, sehingga mereka pun setia dan hormat sekali kepada ibunya.
Setelah berakhirnya pemboikotan kaum Quraisy terhadap kaum muslim, Siti Khadijah sakit keras akibat beberapa tahun menderita kelaparan dan kehausan. Semakin hari kondisi kesehatan badannya semakin memburuk. Dalam sakit yang tidak terlalu lama, dalam usia 60 tahun, wafatlah seorang mujahidah suci yang sabar dan teguh imannya, Sayyidah Siti Khadijah al-Kubra binti Khuwailid.
Siti Khadijah wafat dalam usia 65 tahun pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-10 kenabian, atau tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah atau 619 Masehi. Ketia itu, usia Rasulullah sekitar 50 tahun. Beliau dimakamkan di dataran tinggi Mekkah, yang dikenal dengan sebutan al-Hajun.
Karena itu, peristiwa wafatnya Siti Khadijah sangat menusuk jiwa Rasulullah. Alangkah sedih dan pedihnya perasaan Rasulullah ketika itu. Karena dua orang yang dicintainya (Khadijah dan Abu Thalib) telah wafat, maka tahun itu disebut sebagai ‘Aamul Huzni (tahun kesedihan) dalam kehidupan Rasulullah.
Sumber Asli:
Arief, Nurhaeni. Engkau Bidadari Para Penghuni Surga, Kisah Teladan Wanita Saleha. Kafila: Yogyakarta: 2008
Taman, Muslich. Pesona Dua Ummul Mukminin, Teladan Terbaik Menjadi Wanita Sukses dan Mulia. Pustaka Al-Kautsar: Jakarta. 2008
Razwy, Syeda. A. Khadijah, The Greatest of First Lady of Islam. Alawiyah Abdurrahman (terj.). Mizan Publika: Jakarta. 2007

Kisah Cinta Rosul kepada Aisyah


Siti Aisyah tidak hanya mencintai Rasulullah, ia juga sangat kagum dan takjub dengan kepribadian beliau. Ia mencintai beliau seperti cinta seorang muslimah kepada Rasulnya, dan cinta seorang istri kepada suaminya. Ia juga kagum akan ketampanan Rasulullah, di samping juga menyukai akhlak dan kemuliaan beliau. Di antara bukti cinta Aisyah terhadap suaminya adalah jika bangun tidur dan tidak menemukan Rasulullah di sampingnya, ia merasa khawatir dan gelisah.
Siti Aisyah adalah istri yang paling dicintai Rasulullah dibanding dengan istri-istri yang lain. Dari Anas berkata, Rasulullah bersabda, “Perempuan yang paling aku cintai adalah Aisyah dan (yang paling aku cintai) dari laki-laki ialah bapaknya (HR. Bukhari Muslim).
Jika ada orang yang mengaku mencintai Rasulullah seperti ia mencinta beliau, Aisyah merasa sangat sedih dan cemburu, bahkan kendati pun wanita itu sudah wafat. Misalnya, meski Khadijah telah tiada, Rasulullah selalu saja mengenang dan menyebut-nyebut namanya, karena beliau dulu banyak bergantung kepadanya, dan hal ini sampai membuat Aisyah cemburu. Kecemburuan Aisyah ini tidak bisa diredam dan dibendung lagi. Namun, itu juga sebagai bukti rasa cinta Aisyah kepada Rasulullah.
Bukti lain dari kecintaan dan kasih sayang Siti Aisyah terhadap Rasulullah terlihat ketika beliau menjelang akhir hayatnya. Rasulullah sering mengalami sakit. Maka, beliau meminta kerelaan kepada istri-istri beliau yang lain untuk tinggal di kamar Aisyah selama beliau sakit. Bagi Aisyah, menetapnya Rasulullah selama sakit di kamarnya merupakan penghormatan yang sangat besar, karena ia dapat merawat beliau hingga akhir hayatnya.
Tujuan Rasulullah memilih dirawat dan menetap di rumah Siti Aisyah tersebut adalah agar ia dapat menghafal seluruh perkataan dan perbuatan beliau pada hari-hari terakhirnya, karena memang Allah telah menganugerahi Aisyah dengan berbagai keutamaan dan kelebihan, berupa akal yang cerdas, ingatan yang kuat dan tingkat pemahaman yang cepat.
Maka berpindahlah Rasulullah menuju ke rumah istri tercintanya. Aisyah pun begadang sepanjang malam berbagi hati merasakan kesakitan sang suami, dengan rasa cinta dan kasih sayangnya ia urus suami walaupun harus menebus (nyawa) sang suami dengan dirinya. Aisyah dengan lembut mengatakan, ‘Diriku, ayahku, dan ibuku, semuanya akan berkorban untuk menebus dirimu, wahai Rasulullah.
Hari demi hari penyakit Rasulullah semakin parah sampai-sampai beliau tidak mampu lagi melaksanakan shalat berjamaah bersama kaum muslimin di masjid. Detik-detik terakhir kehidupan Rasulullah semakin dekat. Aisyah ketika itu menjadi tempat bersandar bagi tubuh beliau, Rasulullah selalu dalam dekapan dan pelukannya, ia juga selalu menyediakan siwak untuk beliau.
Rasulullah wafat pada tanggal 12 Rabiul Awwal, tahun ke-11 Hijriyah, dalam usia 63 tahun. 40 tahun sebelum kenabian dan 23 tahun sesudahnya. 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah. Beliau dimakamkan di dalam rumah Siti Aisyah.
Sumber:
Arief, Nurhaeni. Engkau Bidadari Para Penghuni Surga, Kisah Teladan Wanita Saleha. Kafila: Yogyakarta: 2008
al-Istambuli, Mahmud Mahdi dan Asy-Syalbi. Wanita-wanita Sholihah dalam Cahaya Kenabian. Muh. Azhar (terj.). Mitra Pustaka: Yogyakarta. 2002
an-Nadawi, Sulaiman. ‘Aisyah, The Greatest Woman in Islam. Firdaus (terj.). Qisthi: Jakarta. 2007
Shabban, Muhammad Ali. Teladan Suci Keluarga Nabi, Akhlak dan Keajaiban-keajaibannya. Mizan Pustaka: Bandung. 2005
Taman, Muslich. Pesona Dua Ummul Mukminin, Teladan Terbaik Menjadi Wanita Sukses dan Mulia. Pustaka Al-Kautsar: Jakarta. 2008