Tampilkan postingan dengan label perpustakaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perpustakaan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Januari 2011

Meneladani Minat Baca Sang Pahlawan

Untuk menguatkan semua langkah di atas, bahwa untuk membangkitkan motivasi membaca harus dimulai dengan perubahan paradigma serta menciptakan sebuah mimpi, penulis akan menukilkan kisah-kisah hidup orang-orang sukses yang dibangun dari kebiasaan membaca, salah satunya adalah Bung Hatta, negarawan sejati yang memiliki mimpi ”Indonesia Merdeka”

Menurut penulis, menelusuri jejak para pahlawan adalah menelusuri jajak para kutu buku. Pahlawan tanpa tanda jasa mungkin saja ada, tetapi pahlawan tanpa “tanda baca” itu sangat sulit mencari figurnya. Lembaran hidup para pahlawan tidak bisa dipiskan dari lembaran-lembaran naskah yang dia baca dan dia tulis. Mungkin sudah menjadi hukum besi sejarah bahwa seorang pemimpin biasanya juga ia adalah seorang orator dan penulis. Bahkan bisa dihipotesiskan bahwa menulis dan retorika merupakan faktor determinan untuk menjadi seorang pemimpin. Tanpa dua macam keterampilan itu sangat sulit seseorang di sebut pemimpin atau pahlawan atau orang besar. Karena, bagaimana bisa berbicara dan menulis apabila tidak memiliki banyak pengetahuan yang instrumen utamnya adalah membaca. Memang, dengan rekaysa misalnya membuat tulisan atas nama dirinya atau dibuatkan teks pidatonya, bisa saja seseorang menjadi pemimpin, akan tetapi sejarah kelak akan membuktikan bahwa dia bakanlah pemimpin yang otentik. Dalam konteks nasional, kita dapat melihat hampir semua pahlawan kemerdekaan adalah kutu buku. Dalam tulisan ini penulis hanya akan mengulas pengalaman membaca salah seorang proklamator yang sangat terkenal dengan minat bacanya yaitu Bung Hatta. Yang oleh Deliar Noer dalam buku Biografi Politik Bung Hatta (1990: 143) disebut ”Pembaca dan pencatat yang cermat.”

Sebetulnya yang paling berjasa dalam membesarkan tokoh kita ini adalah bukan hanya sekolah formalnya akan tetapi bahan bacaannya. Dan yang paling menentukan dalam perjuangannya bukan guru-gurunya semata akan tetapi atas dasar usahanya sendiri. Tokoh kita ini, berkat kerakusan dalam membaca, telah menjadi seorang pembelajar mandiri sejak dini. Kehidupan orang-orang besar persis seperti yang dikatakan oleh Thomas Jefferson (1815) ” aku tidak bisa hidup tanpa buku”

Berikut ini akan saya kutipkan pengalaman membaca Bung Hatta yang diambil dari Memoir-nya (1982). Pada awal menjadi murid di PHS (Prins Hendrik School) Jakarta pada tahun 1919 (pada saat berumur 17 tahun) ia menuturkan: ”Selagi melihat-lihat buku di sana tampak oleh Mak Etek Ayub tiga macam buku yang dinanggapnya perlu aku baca nanti, yaitu N.G. Pierson, Staathuishoudkunde, 2 jilid; H.P. Quack, De Socialisten, 6 jilid, Bellamy, Het Jaar 2000. Inilah buku-buku yang bermula kumiliki yang menjadi dasar perpustakaanku.

Malam itu juga kumulai membaca buku Nellamy. Waktu aku akan tidur liwat tengah malam sudah leibh seperempat isi buku itu kubaca. Barangkali akan terus kubaca sampai tamat, apabla besok harinya aku tidak mesti sekolah. Pembacaan itu besok harinya kuteruskan sampai tamat buku itu kubaca. Bacaan itu kuanggap bacaan pertama.

Biasanya buku-buku yang mengenai mata pelajaran aku pelajari pada malam hari. Buku-buku lainnya, buku roman dan buku tambahan untuk meluaskan pengetahuan kubaca pada sore hari sesudah pukul 4 atau setengah 5.

Setelah tiga kali berturut-turut buku Bellamy tamat kubaca, kumulai membalik-balik buku Quack, De Socaialisten yang 6 jilid itu.

Pada vakansi besar pertengahan tahun 1920 aku pulang ke Bukittinggi. Di situ dapat kubaca kembali uraian Quack tentang Robert Owen dalam De Socialisten jilid 2 seluruhnya. Waktu itu dapat pula kubaca uraian Quack tentang Ferdinand Lassalle dari De Socialisten jilid 4. Aku asyik membacanya dan aku pandang pujangga sosilis itu penuh romantik. Setelah aku memperoleh buku-buku dari Mak Etek Ayub, aku tidak banyak lagi keluar berjalan-jalan dengan sepeda seperti sebelumnya.”
Dua tahun kemudian (1921) pada saat beliau melanjutkan studinya di negeri Belanda, atau pun sedang mengadakan kunjungan ke negara-negara lain, hal pertama yang dilakukan beliau adalah memborong buku. Seperti yang ia lakukan pada saat pergi ke Jerman, di antara buku-buku yang dibelinya adalah: Gustav Schmoler, Grundrisz der Algemein Volkswirtschaftlehre, 2 jilid, 1400 halaman; Bohm Bawerk, Kapital und Kapitalzins, 1400 halam; Werner Sombart Der Modere Kapitalismus, 4 jilid, 2100 halaman; dan banyak lagi sampai beliau mengatakan: “‘harta’ bukuku memang bertambah luas terus sejak aku kembali dari Hamburg tahun 1922”. Beliau memiliki disimplin membaca yang sangat hebat dalam perjalnan hidupnya. Pada saat studi di Belanda ia memiliki agenda sebagai berikut: ” Menurut kebiasaan pukul 7 malam aku sudah mulai belajar di kamarku sampai jam 12 tengah malam. Karangan-karangan untuk majalah Indonesia Merdeka bisanya kutulis sesudah jam 9 malam. Kadang-kadang aku bekerja sampai pukul 2 tengah malam. Di waktu itu kerja larut malam itu senang sekali rasanya. Itulah dalam garis besar hidupku sehari-hari!”. Kebiasaan ini beliau lanjutkan di tanah air, sekalipun dalam pembuangannya.

Terkadang untuk memahami sebuah buku beliau memiliki tekad, ketekunan, dan kesabaran yang luar biasa, seperti penuturannya beriktu ini: ”Sesudah aku sampai di rumah, aku mulai mempelajari buku Jellinek, Allgemeine Staatslhehre. Kupusatkan studiku pada buku ini, empat bulan lamanya. Sepanjang hari buku itu saja yang kupelajari. Buku-buku untuk mata pelajaran lain dan diktat hanya malam hari saja dapat kuperhatikan. Demikian juga karangan-karangan untuk Daulat Ra’yat. Tiap hari aku minum Tonikum untuk memperkuat badan dan pikiran. Tetapi sesudah 4 bulan badanku merasa lusu dan otakku tak sanggup lagi menerima pelajaran baru. Ini kurasakan kira-kira dua minggu menjelang ujian pada akhir Juli 1932.”

Pada tahun yang sama, setelah menumpuh ujian, belaiu persiapan untuk pulang ke Indonesia. Tentu saja diantara barang bawaan yang turut serta ke tanah air adalah buku-bukunya.”Sudah aku rencanakan bahwa buku-buku yang akan kubawa pulang tidak lebih banyak dari 2m3, dimuat dalam 16 peti besi yang masing-masing berukuran setengah meter kubik. Selebihnya kutinggalkan, kubagikan kepada dua orang teman dekat di waktu itu.”

Bagi Bung Hatta buku merupakan istri pertanya. Ke mana pun beliau pergi buku selalu menyertainya, termasuk ke pembuangan sekalipun. Pada waktu mau di buang ke Boven Digul, beliau meminta izin selama tiga hari kepada petugas untuk mengapak dulu buku-bukunya yang akan dibawa serta. Buku yang dibawa ke pembuangan pada waktu itu sejumlah 4m3 yang dibagi kedalam 16 peti dengan ukuran masing-masing seperempat meter kubik.

Begitulah gambaran tentang semangat membaca Bung Hatta. Perjalana hidupnya adalah sejarah membaca dan menulis. Dan inilah sesungguhnya salah satu warisan beliau yang paling berharga bagi bangsa Indonesia: membaca.

Penyampaian kisah-kisah kepahlawanan akan dilakukan dengan metode storytelling yang telah terbukti efektivitasnya dalam mempengaruhi pikiran dan membentuk karakter manusia.

SUMBER MOTIVASI MEMBACA

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (QS. 13:11).



Motivasi adalah keadaan dalam diri individu yang memunculkan, mengarahkan, dan mempertahankan perilaku. Dengan kata lain menurut Kartini Kartono motivasi adalah dorongan terhadap seseorang agar mau melaksanakan sesuatu. Dengan dorongan (driving force) di sini dimaksudkan: desakan yang alami untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan hidup dan merupakan kecenderungan untuk mempertahankan hidup (http://id.wikipedia. org/wiki/Motivasi).

Sesungguhnya upaya menumbuhkan motivasi membaca dapat bersumber dari empat dimensi manusia (mental, emosional, spiritual, dan fisik). Dengan menghidupkan satu atau lebih dimensi manusia tersebut seseorang dapat termotivasi dalam membaca. Keempat dimensi tersebut apabila diartikulasikan kedalam bentuk kegiatan manusia maka akan seperti berikut: Visualisasi (visualitation) untuk dimensi mental; Tanggung jawab (responsibility) untuk dimensi spiritual; Kenyamanan dan kesukaan (excited) untuk dimensi emosional; Gerakan (move) untuk dimensi fisik. Manusia pada dasarnya memiliki kemampuan memotivasi diri untuk membaca yang tidak terbatas. Semakin besar upaya untuk menyalakan sumber pemicu motivasi semakin besar motivasi yang dihasilkan. Akan tetapi untuk memulainya, langkah yang paling awal dan paling penting adalah melakukan penyadaran.

PENYADARAN

Yang dimaksud penyedaran di sini adalah sebuah proses di mana membuat seseorang sadar atas diri dan situasinya yang kemudian akan membuka jalan untuk berusaha mengubahnya. Menumbuhkan kesadaran sangat perlu sebagai langkah awal dari bangkitnya motivasi. Kesadaran merupakan kunci yang harus dimiliki seseorang agar perubahan dapat tercapai. Dengan adanya kesadaran yang dimiliki, maka seseorang akan sangat mudah untuk menyelesaikan problem-problem pribadi atau sosial yang ada di masyarakat. Dalam proses penyadadaran ini seseorang akan dihadapkan dengan berbagai macam problematika sosial seperti kemiskinan, pengangguran, konflik, persaingan dan lain-lain yang terjadi di Indonesia pada saat ini. Peserta akan diajak untuk bersama-sama membaca secara kontekstual lingkungan sosial yang senantiasa mengepung kehidupannya setiap hari. Ia akan diposisikan sebagai subyek bukan obyek dan menjadikan realitas sosial sebagai materi pembelajaran. Pembelajaran diberikan dengan pendekatan dialogis yang berorientasi pada terwujudnya kesadaran kritis dalam diri. Peserta akan dibimbing untuk memasuki tiga jenis kesadaran, sebagaimana digolongkan oleh Pauolo Freire, yaitu kesadaran magis (magical consciousness), kesadaran naif (naival consciousness) dan kesadaran kritis (critical consciousness).

1.

Kesadaran Naif: keadaan yang dikatergorikan dalam kesadaran ini adalah lebih melihat “aspek manusia” sebagai akar penyebab masalah masyarakat. Masalah etika, kreativitas dan need for achievement dalam kesadaran ini di anggap sebagai penentu perubahan.. Jadi dalam menganalisis penyebab kemiskinan masyarakat, kesalahannya terletak di masyarakat sendiri. Masyarakat dianggap malas membaca, tidak memiliki kewiraswastaan atau tidak memiliki budaya membangun dan seterusnya
2.

Kesadaran Magis yakni suatu kesadaran masyarakat yang tidak mampu melihat kaitan antara satu faktor dengan faktor lain. Kesadaran magis dibangkitkan dengan mengatikan bahwa kegiatan membaca sebagai sebuah pekerjaan suci yang dititahkan oleh agama (teologi membaca).
3.

Kesadaran Kritis, kesadaran ini lebih melihat aspek sistem dan struktur sebagai sumber masalah. Pendekatan struktural menghindari “blaming the victims” (menyalahkan korban) dan melakukan analisis kritis untuk menyadari struktur dan sistem sosial, politik, ekonomi dan budaya serta akibatnya terhadap keadaan masyarakat.Untuk bisa mencapai kesadaran kritis dibutuhkan pendidikan kritis yang berbasis pada realitas sosial.


Seseorang belum bisa dikatakan sadar apabila belum mengetahui keadaan (realitas) yang sedang dialaminya, serta belum mau merubah keadaan tersebut menjadi lebih baik. Dalam proses penyadaran ini akan ditekankan bahwa yang sangat bertanggung jawab atas masa depan adalah dirinya sediri. Sebagaimana Allah befirman dalam Alqur’an surah Ar-Ra’d ayat 11, diterangkan bahwa perubahan masyarakat harus dimulai dari diri manusianya (kesadaran). M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah mengatakan bahwa: ada beberapa hal yang perlu di garisbawahi menyangkut ayat tersebut. Pertama, ayat tersebut berbicara tentang perubahan sosial, bukan perubahan individu. Kedua, sunnatullah yang dibicarakan ayat ini berkaitan dengan kehidupan duniawi bukan ukhrawi. Ketiga, ayat ini berbicara tentang dua pelaku perubahan yakni Allah dan Manusia. Keempat, ayat ini menekankan bahwa perubahan yang dilakukan oleh Allah, haruslah didahului oleh perubahan yang dilakukan oleh masyarakat menyangkut “sisi dalam” mereka. Tanpa perubahan ini, mustahil akan terjadi perubahan sosial. Karena itu boleh saja terjadi perubahan penguasa atau perubahan sistem, tetapi jika “sisi dalam” masyarakat tidak berubah, maka keadaan akan tetap bertahan sebagaimana sediakala. Jika demikian, dalam pandangan Al-Qur’an yang paling pokok guna keberhasilan suatu perubahan sosial adalah perubahan “sisi dalam manusia”, karena manusialah yang melahirkan aktivitas, baik positif maupun negatif, dan bentuk, sifat serta corak aktivitas itulah yang mewarnai keadaan masyarakat (positif dan negatif)

“Sisi dalam” manusia dinamai nafs, dan “sisi luar” dinamai jism. Jika kita ibaratkan nafs dengan sebuah wadah, maka nafs adalah sebuah wadah besar yang di dalamnya ada kotak yang berisikan segala sesuatu yang disadari oleh manusia (gagasan dan kemauan). Al-Qur’an menamai “kotak” itu dengan qalbu. Di dalam qalbu (hati) inilah tersimpan suatu kesadaran (tingkah laku manusia). Suatu masyarakat tidak akan berubah keadaan lahiriahnya, sebelum mereka mengubah lebih dahulu apa yang ada dalam wadah nafs-nya antara lain adalah gagasan dan kemauan atau tekad untuk berubah. Gagasan yang benar yang disertai dengan kemauan suatu kelompok masyarakat dapat mengubah keadaan masyarakat itu. Tetapi gagasan saja tanpa kemauan atau kemauan saja tanpa gagasan tidak akan menghasilkan perubahan.

Hasil akhir yang diinginkan dari proses penyadaran ini adalah adanya perubahan paradigma—yang merupakan sumber dari sikap dan perilaku manusia. Perubahan paradigma ini akan mampu menggerakaan seseorang dari satu cara melihat dunia ke cara yang lain. Hanya dengan perubahan paradigma inilah yang akan menghasilkan perubahan budaya baca yang kuat dalam masyarakat. Yang tadinya tidak perduli terhadap berbagai macam persoalan menjadi merasa bertanggung jawab dan siap untuk mengambil peran. Culture is the way we think, the way we do thing around here ( budaya adalah cara kita berpikir yang akan mempengaruhi cara kita melakukan segala hal di sekitar kita). Untuk menuju perubahan budaya (budaya membaca), langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan cara mengubah paradigma jika kita ingin menggali lebih banyak manfaat dari membaca. Harus mulai menempatkan mindset ke jalan yang benar bahwa membaca adalah sebuah kebutuhan jika ingin terus bertahan hidup dalam persaingan global yang semakin ketat ( Mutiah Lilhaq, s.a.)
VISI (MIMPI)

Malam itu, 4 April tahun 1968. Martin Luther King sedang berdiri di balkon lantai 2 Lorraine Motel di Memphis, Amerika. Di motel itu ia dan para pejuang keseteraan lainnya menginap, sebelum berpidato dalam sebuah unjuk rasa akbar untuk kesetaraan. Namun sebutir peluru mengubah segalanya. Peluru itu bersarang menembus kepalanya. Ia tersungkur dan dinyatakan tewas sejam kemudian

Salah satu yang paling terkenal dari Martin Luther King adalah pidatonya yang kemudian dikenang sebagai pidato ”Saya Bermimpi” atau I have a dream:



"Saya bermimpi. Suatu mimpi yang berakar dalam di mimpi Amerika sendiri. Saya bermimpi, suatu hari bangsa ini akan bangkit dan menghidupkan arti sejati dari asasnya: Kami meyakini kebenaran-kebenaran ini tanpa syarat: bahwa semua manusia diciptakan setara."Pidato ini diucapkan di Washington di hadapan lebih dari seperempat juga orang, pada 28 AGustus 1963. ’I have a Dream’ disebut-sebut sebagai salah satu pidato paling inspiratif untuk perubahan sosial politik umat manusia.” [www.kabarindonesia. com/07-Apr-2008]



Setelah terjadinya perubahan paradigma, langkang selanjutnya untuk mengarah hidup adalah dengan menetapakan visi pribadi atau membangun sebuah mimpi. Yang dimaksud dengan mimpi di sini adalah merupkan sebuah proyeksi atau imajinasi atau cita-cita atau daya khayal seseorang untuk diperjuangan di masa depan. Bukan mimpi yang merupakan “bunga” pada saat kita tidur atau lamunan. Mimpi sangat perlu dimiliki seseorang sebagai suatu penuntun arah akan ke mana dia berjalan di hari depan. Mimpi juga sangat diperlukan supaya seseorang dapat mempunyai perencaran hidup.

Mimpi merupakan salah satu faktor yang dapat membangkitkan motivasi seseorang, termasuk motivasi membaca. Sebuah mimpi atau cita-cita yang sudah benar-benar menjadi pilihan akan membuat seseoranga termotivasi untuk menggapainya terlepas dari apapun yang menghalangi dirinya, sebagaimana yang dikatakan oleh Fred Polak: “Faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan peradaban-peradaban dunia adalah ‘visi kolektif’ yang dimiliki oleh para individunya mengenai masa depan mereka".

Sebagian besar kegagalan, baik dalam skala pribadi maupun komunal, adalah diakibatkan oleh kegagalan menetapkan visi. Dan sebaliknya, visi yang jelas merupakan langkah awal untuk mencapai sukses. Sebuah visi secara sederhana dapat dirumuskan hanya dengan sebuah pertanyaan: “Apa sebenarnya yang kuinginkan?”. Atau bisa juga dengan mereka-reka masa depan yang diinginkan dalam khayalan bahkan dalam mimpi. Tanpa visi, kehidupan seseorang tidak akan memiliki arah yang jelas dan proaktif dalam memaksimalkan dan mengoptimalkan potensi dirinya.

Visi dapat membuat seseorang menciptakan realitas, tidak hanya beraksi terhadap realitas tersebut. Kegunaan lainnya adalah dalam menanggapi berbagai rintangan yang menghadang. Apabila visi yang dimiliki adalah sebuah visi yang jelas dan juga besar, maka rintangan akan dipandang sebagai tantangan bukan penghalang.

Dalam sakala yang lebih besar baik itu berupa korporasi ataupun negara, visi sama pentingnya sebagaimana dalam invdividu. Dalam korporasi, visi menggambarkan tingkat keadaan organisasi yang diinginkan di masa depan (Kartajaya, 2002: 669). Referensi dari visi adalah sebuah imajinasi, mimpi, atau khayalan tentang masa depan. Kalau orang telah memiliki sifat-sifat seperti itu, maka ia disebut orang yang visioner. Orang ini akan menjadi daya tarik, menggerakkan, dan menjadi sumber insprirasi.
“Kepemimpinan yang baik itu artinya mengetahui sebarapa banyak dari masa yang akan datang boleh diperkenalkan kepada masa kini.”. kata Peter Burwash. Masa yang akan datang selalu menjadi milik orang-orang yang melihat kemungkinan-kemungkinan jauh sebelum mereka menjadi kenyataan. Orang-orang ini mempunyai visi mengenai sesuatu yang dapat menjadi kenyataan, dan kemudian berusaha membuatnya menjadi kenyataan. Orang besar selalu berpikir melampaui zaman. Dia adalah manusia-manusia yang dilahirkan untuk masa depan. Tabiatnya adalah tidak pernah puas dengan apa yang telah tercapai hari ini.

Orang-orang besar selalu memiliki semangat yang tak terkekang yang dibawa dari lahir. Mereka berani melangkah maju sebagai perintis. Mereka selalu yakin bahwa apa-apa yang akan terjadi di masa yang akan datang itu tidak pasti atau tidak bisa diketahui, dan karenanya penuh dengan ketidakpastian yang amat besar. Namun, orang-orang besar selalu terampil berantisipasi yang akhirnya mampu mengendalikan masa depan mereka.

Ary Ginanjar Agustian mengatakan bahwa visi merupakan sumber kekuatan dari semua perubahan baik skala individu maupun skala institusi besar seperti negara. Setiap kemajuan peradaban untuk menjadi bangsa besar atau setiap perusahaan global multinasional pasti diawali dengan penetapan visi yang kemudian diyakininya sehingga menjadi ciata-cita tertinggi yang harus diperjuangkan apapun tebusannya (Agustian, 2007).

Dr. Charles Garfield telah mengadakan penelitian ekstensif tentang orang-orang yang berprestasi puncak, baik dalam olah raga maupun bisnis, Ia terpesona dengan prestasi puncak pekerjaannya dengan program NASA, mengamati para astronot melatih diri di bumi, berulang-ulang dalam ruang simulasi sebelum mereka berangkat keluar angkasa. Walaupun ia memiliki gelar doktor dalam matematika, ia memutuskan untuk kuliah kembali dan mendapatkan satu gelar lagi, doktor dalam bidang psikologi dan mempelajari karakteristik orang-orang yang berprestasi puncak. Salah satu dari hal utama yang diperlihatkan dari penelitiannya adalah bahwa hampir setiap atlet kelas dunia dan orang-orang yang berprestasi lainnya adalah mereka melakukan visualisasi. Mereka melihatnya, mereka merasakannya, mereka mengalami­nya sebelum mereka benar-benar melakukannya. Mereka memulai dengan tujuan akhir di benaknya.

Thomas A. Edison adalah penjual koran di kereta api, John D. Rockefeller hanya mempunyai upah enam Dollar perminggu. Julius Caesar menderita penyakit ayan. Napoleon punya orang tua kelas rendahan dan jauh dari kategori cerdas (peringkat empat puluh enam di akademi militer dalam kelas dengan siswa enam puluh lima orang). Beethoven seorang yang tuli, sama seperti Thomas A. Edison. PIato berpunggung bungkuk dan Stephen Hawkings lumpuh.. Apa yang memberi orang-orang besar ini stamina untuk mengatasi kekurangan mereka yang cenderung di bawah rata-rata ini menjadi orang-orang yang sukses? Setiap orang mempunyai impian dalam batin yang menyalakan api yang tidak dapat dipadamkan. Hubert H. Humprey mengatakan: "Apa yang anda lihat adalah apa yang anda bisa capai." Konrad Adenauer benar ketika dia berkata, ”Kita semua hidup di bawah langit yang sama, tetapi tidak semua orang punya cakrawala yang sama."

Segala sesuatu diciptakan dua kali. Ciptaan pertama adalah ciptaan imaginasi di dalam alam pikiran, dan ciptaan kedua adalah ciptaan nyata pada alam fisik. Ketika seseorang arsitek merancang sebuah gedung, maka ciptaan pertamanya adalah sebuah "rencana", dan ciptaan keduanya adalah bangunan itu sendiri. Begitu juga kehidupan manusia. Ciptaan pertama rnereka adalah visi dan ciptaan kedua adalah masa depan mereka sendiri.

Visi adalah suatu pandangan ke depan. Apabila pandangan mata hanya mampu melihat sebatas mata memandang yang jangkauannya sangat terbatas, maka visi adalah suatu pandangan tanpa batas, yang mampu menernbus ruang dan waktu. Visi itulah pembimbing hidup kita. Visi adalah sebuah autopilot. (Agustian, 2007)

Menurut Anis Matta (2007) semua karya besar yang memenuhi lembaran sejarah ummat manusia bermula dari imajinasi. Ini bukan hanya ada di dalam dunia kepahlawanan militer, melainkan merata dalam semua bidang kepahlawanan. Temuan-temuan ilmiah selalu didahului oleh imajinasi.: jauh sebelum dilakukannya pengujian di laboratorium ; jauh sebelumnya adanya perumusan teori. Maka, fiksi-fiksi ilmiah selalu menemukan konteksnya di sini : bahwa mercusuar imajinasi telah menyorot seluruh wilayah kemungkinan, dan apa yang harus dilakukan kemudian adalah tinggal membuktikannya. Studi-studi futurologi juga menemukan konteksnya di sini. Memang, selalu harus ada bantuan data-data pendahuluan. Namun, data-data itu hanyalah bagian dari sebuah dunia yang telah terbentuk dalam ruang imajinasi.

Para pemimpin bisnis dan politik serta tokoh-tokoh pergerakan dunia juga menemukan kekuatan mereka dari sini. Bahwa apa yang sekarang kita sebut visi dan kreativitas adalah ujung dari pangkal yang kita sebut iamjinasi. Bacalah biografi Bill Gates atau Ciputra, maka Anda akan menemukan seorang pengkhayal. Bacalah biografi John F. Kennedy atau Soekarno, maka Anda juga akan menemukan seorang pengkhayal. Bacalah pula biografi Sayyid Quthb, maka sekali lagi Anda akan menemukan seorang pengkhayal. Dalam dunia pemikiran, kebudayaan, dan kesenian, imajinasi bahkan menjadi tulang punggung yang menyangga kreativitas para pahlawan di bidang ini.
Kekuatan imajinasi sesungguhnya terletak pada beberapa titik. Pertama, pada wilayah kemungkinan yang tidak terbatas, yang terangkai dalam ruang imajinasi. Itu membantu kita untuk berfikir holistik dan komprehensif, menyusun peta keinginan dan menentukan pilihan-pilihan tindakan yang sangat luas. Kedua, optimisme yang selalu lahir dari luasnya ruang gerak dalam wilayah kemungkinan serta banyaknya pilihan tindakan dalam segala situasi. Ketiga, imajinasi membimbing kita bertindak secara terencana oleh karena ia menjelaskan ruang dan memberi arah bagi apa yang mungkin kita lakukan.

Akan tetapi, imajinasi tentu saja bukan mukjuzat. Harus ada kekuatan lain yang menyertainya agar ia efektif. Yang jelas, Anda mau belajar menjadi ‘pengkhayal ulung’, barangkali Anda telah memiliki sebagian dari potensi ledakan kepahlawanan” (Tarbawi, 30 Juni 2001)

Salah satu kelemahan orang Indonesia adalah kurangnya daya khayal atau mimpi dalam dirinya. Padahal, khayalan akan melahirkan kreativitas dan produktivitas. Mimpi ibarat ibu hamil yang akan melahirkan inspirasi dan inovasi. Kalau kita perhatikan ternyata lembaran-lembaran sejarah ditulis oleh para pemimpi. Apakah mereka itu usahawan, negarawan, ilmuwan, maupun budayawan.

” Buku-buku motivasi dan pengembangan kepribadian selalu mendoktrin kita : Mulailah dari mimpi, karena kebesaran selalu bermula dari sana. Kalimat itu telah menjadi sebuah ‘sabda’ yang diriwayatkan oleh para motivator dan inovator dalam beerbagai pelatihan manajemen, mereka seperti menemukan sumber energi bagi kemajuan mereka.

Mimpi adalah kata yang menyederhanakan rumusan dari segenap keinginan-keinginan kita, cita-cita yang ingin kita raih dalam hidup, atau visi dan misi. Anggapan ia seperti sebuah maket, ia adalah miniatur kehidupan yang ingin Anda ciptakan.

Kekuatan mimpi terletak pada kejelasannya. Sebuah keinginan yang tervisualisasi dengan jelas dalam benak kita akan menjelma menjadi kekuatan motivasi yang dahsyat. Kemauan dan tekat menemukan akarnya pada mimpi kita. (Tarbawi, 31 Juli 2001).

Pelatihan Membangkitkan Minat Baca: Sebuah pendekatan alternatif

Anda tidak bisa mengajari sesuatu kepada seseorang,

Anda hanya dapat membantu orang itu

menemukan sesuatu dalam dirinya

(Galileo Gallilei)





Fungsi utama perpustakaan adalah untuk membangkitkan dan meningkatkan minat baca masyarakat yang dilayaninya (pemustaka). Dengan program-program yang dibuatnya, perpustakaan menjadi pelopor dalam menarik minat masyarakat supaya dekat dengan sumber informasi. Dan pustakawan berperan sebagai agen perubahan untuk menciptakan masyarakat membaca (reading society) sebagai salah satu pilar utama menuju masyarkat belajar (learning society). Walapun kesan yang ada sekarang ini adalah perpustakaan dan pustakawan hanya berperan sebagai pelayan saja bagi kebutuhan informasi masyarakat, sejatinya para pustakawanlah yang mengadakan pelatihan-pelatihan atau berbagai macam program dan juga berinisiatif untuk menulis literatur yang dapat membangkitkan semangat membaca masyarakat, karena ia setiap hari bergulat dengan sumber informasi, di samping itu juga karena pustakawanlah yang paling dekat dengan para pemustaka.

Membangun kebiasaan membaca bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah, tidak hanya cukup dengan membeli buku dan membuat perpustakaan, akan tetapi bukan juga sebuah pekerjaan yang teralalu sulit untuk dilakukan. Pada zaman informasi seperti yang tengah terjadi sekarang ini, menemukan sumber informasi bukanlah pekerjaan yang sulit, akan tetapi ironisnya minat baca masyarakat tetap saja rendah. Hal ini menunjukkan bahwa rendahnya minat baca bukan hanya diakibatkan oleh ketiadaan sumber informasi semata, akan tetapi merupakan kondisi psikologis atau mentalitas seseorang. Untuk itu membangun kebiasaan membaca harus dimulai dari membangun kepribadian individu, dan apabila ingin membangun masyarakat membaca, harus melakukan sebuah upaya yang massif dan simultan dalam membangun kepribadian atau budaya masyarakat menjadi masyarakat yang gemar membaca. Sesungguhnya minat baca dapat diciptakan sebelum perpustakaan itu ada.

Memang, telah banyak beredar buku dan literatur yang membahas tentang minat baca, akan tetapi kalau kita prhatikani ternyata hampir sebagian besar buku-buku tersebut membahas tentang peran orang tua atau guru dalam mengkondisikan anak atau murid, terutama usia Balita sampai sekolah dasar, supaya gemar membaca. Secara teoritis buku-buku tersebut menggunkan pendekatan Pavlovian yang berlandaskan pada teori stimulus-respon serta pengkodisian (conditioning). Termasuk buku Pedoman Minat Baca yang dibuat oleh Perpustakaan Nasional (2002) juga menggunakan pendekatan ini.

Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa timbulnya selera membaca disebabkan oleh adanya koleksi yang beragam dan variatif. Selanjutnya selera membaca ini akan menimbulkan minat baca, yang kalau diulang terus-menerus akan menghasilkan kebiasaan membaca. Dan kebiasaan membaca ini akan menjadi landasan dari pengembangan koleksi. Dari pola seperti di atas dapat terlihat bahwa ada korelasi yang sangat kuat antara koleksi dengan kebiasaan membaca. Faktor utama untuk menumbuhkan minat baca adalah koleksi. Hampir semua bentuk program dan kegiatan pembinaan minat baca yang ditawarkan oleh Perpustakaan Nasional juga bersifat ”pemaksaan” dengan kegiatan yang diwajibkan atau diharuskan. Di samping itu juga disodorkan kegiatan-kegaitan yang bersifat rangsangan seperti lomba, dll. Pendek kata semua kegiatan itu ”berasal dari luar” diri si peserta didik. Bukan berdasarkan pada proaktivitas yang timbul atas dasar kesadaran ”dari dalam diri” mereka.

Sekali lagi, pola pembinaan minat baca tersebut di atas dilandaskan pada teori determinisme terutama determinisme lingkungan. Secara singkat teori determinisme tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:



Mengapa seseorang tidak memiliki minat baca ? Jawabannya ada tiga macam: 1) karena memang sudah warisan dari orang tua. Mulai dari kakek-nenek memang tidak suka membaca dan itu sudah ada dalam DNA anda sampai hari ini. Sifat ini deteruskan dari generasi ke generasi berikutnya dan anda mewarisinya. Inilah yang disebut dengan determinisme genetis. 2) Anda tidak sedang membaca, karena memang sejak kecil dibesarkan oleh oleh orang tua yang tidak pernah mendekatkan diri anda dengan bacaan. Saya tidak sedang membaca memang tidak diberi teladan oleh orang tua malah orang tua Anda selalu mengatakan bahwa membaca itu perbuatan yang hanya buang waktu saja. Pengasuhan anda, pengalaman masa kanak-kanak anda pada dasarnya membentuk kecenderungan pribadi dan sususan karakter anda. Itulah sebabnya anda tidak senang membaca.Inilah yang disebut dengan determinisme psikis. 3) Sedangkan determinisme lingkungan pada dasarnya mengatakan bahwa anda tidak senang membaca karena atasan atau bawahan, teman-teman, dan guru atau dosen ada juga tidak senang membaca; di samping itu juga di rumah, di kantor, di sekolah tidak disediakan perpustakaan; serta tidak ada peraturan perusahaan yang mengharuskan anda untuk membaca; situasi ekonomi yang kurang mendukung dan tidak adanya kebijakan nasional tentang minat baca. Seseorang atau sesuatu di lingkungan andalah yang bertanggung jawab atas tidak adanya minat baca pada diri anda.
Ketiga macam determinan di atas dilandasi oleh teori stimulus/respons yang sering kita hubungkan dengan eksperimen Pavlov dengan anjingnya. Gagasan dasarnya adalah bahwa kita dikondisikan untuk berespons dengan cara tertentu terhadap stimulus tertentu (Covey, 1997)

Kekurangan dari pendekatan di atas di antaranya adalah akan mengalami kesulitan bila diterapkan pada usia remaja sampai dewasa, di samping itu juga waktu yang dibutuhkan terlalu lama.

Sampai saat ini penulis belum pernah menemukan buku atau literatur yang membahas tentang metode meningtkan minat baca untuk orang dewasa. Karena tentu saja sangat berbeda cara memperlakukan Balita dengan orang dewasa. Orang dewasa bisanya sudah kebal terhadap lingkungan, dia sudah memiliki sebuah kesadaran diri yang timbul dari dalam untuk melakukan sesuatu.

Untuk melengkapi upaya membangkitkan minat baca ini, saya akan mencoba dengan menggunakan pendekatan lain yaitu yang saya sebut dengan “terapi minat baca”. Istlihan ini mungkin belum ada dalam literatur perpustakaan ataupun literatur pendidikan. Landasan teoritis terapi minat baca ini saya ambil dari konsep pendidikan kritis Paulo Freire, seorang ideolog pendidikan dari Brazil, yang dipadukan dengan konsep membangun Tujuh Kebisaan Manusia Yang Sangat Efektif dari Stephen R. Covey.

Pendekatan ini didasarkan kepada sebuah teori bahwa manusia tidak hanya digerakan oleh stimulus yang sangat mekanistis, akan tetapi manusia adalah merupakan makhluk yang memiliki kehendak bebas. Di antara stimulus dan respons terdapat kekuatan manusia yang besar, yaitu kebebasan untuk memilih.

Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa kita sebagai manusia sangat bertanggung jawab atas hidup kita sendiri. Perilkau kita adalah fungsi dari keputusan kita, bukan kondisi kita. Kita dapat menomorduakan perasaan sesudah nilai. Kita mempunyai inisiatif dan tanggung jawab untuk membuat segala sesuatunya terjadi. Perilaku adalah produk dari pilihan sadar, berdasarkan nilai, dan bukan produk dari kondisi atau berdasarkan perasaan.

Kemampuan untuk menomorduakan impuls sesudah nilai merupakan inti orang yang proaktif. Orang yang reaktif digerakkan oleh perasaan, oleh keadaan, oleh kondisi, oleh lingkungan mereka. Orang yang proaktif digerakan oleh nilai—nilai-nilai yang sudah dipikirkan secara cermat, diseleksi, dan dihayati.

Untuk membangkitkan dan membangun minat baca tidak hanya harus dilandaskan pada lingkungan atau kondisi, tetapi juga dapat didasarkan pada pilihan yang sadar. Membaca bukan sebuah kewajiban yang datang dari ”luar” dan harus dilakukan dengan terpaksa, akan tetapi sebuah kebutuhan yang timbul dari ”dalam diri” akan dilakukan dengan senang hati.

Tentu saja perasaan itu akan timbul dalam diri seseorang setelah diberikan pemahaman tentang pentingnya membaca untuk peningkatan kualitas hidup seseorang.

Konsep ”terapi minat baca” ini hanya bisa diterapkan untuk orang dewasa. Pembelajaran disampaikan dengan pelatihan selama dua hari dengan menggunakan pendekatan pengajaran orang dewasa (andragogi).

Peran & Fungsi Perpustakaan

Anda sempat menghitung jumlah media massa dan penerbitan? Tak kurang, sebelum reformasi berjalan di negeri tercinta ini, ada 148 surat kabar, 102 majalah, 89 tabloid serta 260 penerbitan pers yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia. Kini, ketika kebebasan pers dibuka lebar-lebar, hampir setiap kota, daerah atau instansi berlomba-lomba membuat penerbitan sendiri.

Namun, di tengah menjamurnya media tersebut, kehadiran perpustakaan di tengah-tengah kita, justru cenderung dilupakan. Kabarnya, perpustakaan-perpustakaan yang tersebar di pelosok kota dan atau desa belakangan ini pun tak jelas bagaimana nasibnya. Tak terawat, atau mubazir karena tidak termanfaatkan sepenuhnya.

Betapa mubazirnya kehadiran perpustakaan apabila kita tak mau memanfaatkan sebagaimana mestinya. Masyarakat berkembang seperti di negeri kita, jelas sangat membutuhkan ilmu pengetahuan bagi pembangunannya. Dan, sebagian dari ilmu pengetahuan itu dapat disadap dari buku-buku, sehingga kehadiran perpustakaan mutlak diperlukan.

Sebagaimana kita mafhum, perpustakaan sebagai lembaga yang mengelola, menghimpun, mengatur media baik cetak maupun noncetak, merupakan sumber informasi, media pendidikan, media rekreasi dan media riset bagi masyarakat. Seperti yang pernah dikatakan seorang pustakawan, perpustakaan merupakan tempat menyimpan, menghimpun koleksi buku, bahan cetakan, serta rekaman lain untuk kepentingan masyarakat umum. Perpustakaan berdiri sebagai lembaga yang demokratis yang diurus oleh dan untuk masyarakat. Sehingga, setiap anggota masyarakat punya hak dan kesempatan untuk mencari tambahan ilmu pengetahuan di sana.

Kalau boleh disimpulkan, fungsi perpustakaan sedikitnya ada lima. Pertama, merupakan sumber segala informasi. Kedua, merupakan fasilitas pendidikan nonformal, khususnya bagi anggota masyarakat yang tidak sempat mendapatkan kesempatan pendidikan formal. Ketiga, sarana atau tempat pengembangan seni budaya bangsa, melalui buku atau majalah. Keempat, karena keragaman bahan bacaan yang disimpannya, perpustakaan sekaligus memberikan hiburan bagi pembacanya. Dan kelima, merupakan penunjang yang penting artinya bagi suatu riset ilmiah, sebagai bahan acuan atau referensi.

Dengan kelima fungsi perpustakaan itu, kehadiran perpustakaan dapat diarahkan kepada banyak tujuan. Di antaranya,

Pertama, memasyarakatkan atau membudayakan minat baca masyarakat, yang sejauh ini dinilai masih sangat rendah.

Kedua, mendorong dan mendidik segenap lapisan masyarakat dalam rangka pendidikan sepanjang hayat, atau menyadarkan seluruh individu bahwa belajar merupakan kegiatan mendasar yang secara kontinu mesti dilakukan sepanjang hidup.

Ketiga, dengan adanya perpustakaan, akan terbuka lebar-lebar peluang bagi seluruh anggota masyarakat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan setinggi-tinggi dan sedalam-dalamnya.

Keempat, perpustakaan dapat menunjang terciptanya situasi dan kondisi sosial yang sehat, sehingga secara umum akan mendukung pengembangan modal dasar bagi proses pembangunan.

Namun demikian, sejauh ini yang paling sering dikeluhkan adalah rendahnya minat baca masyarakat, sehingga kehadiran perpustakaan kerap kali mubazir dan tak terdayagunakan secara optimal. Bahkan tak jarang terdengar keluhan, perpustakaan-perpustakaan yang ada, baik yang dikelola pemerintah maupun swasta, tak terurus dan terawat dengan baik. Sehingga koleksi buku, majalah dan bacaan lainnya menjadi rusak. Bahkan tak laik untuk dibaca.

Barangkali, karena masih minimnya minat baca tersebut, banyak perpustakaan sepi pengunjung. Bahkan yang sangat menyedihkan, di lingkungan universitas sekali pun, tak selamanya perpustakaan dimanfaatkan mahasiswanya secara maksimal. Apalagi untuk buku-buku atau bahan bacaan berbahasa asing (umumnya bahasa Inggris).

Kondisi merana demikian perlu dicarikan jalan keluarnya. Iklim yang mendukung fungsinya perpustakaan perlu diciptakan, dan penciptaan iklim itu agaknya bisa dimulai di sekolah-sekolah tingkat bawah. Sekolah taman kanak- kanak dan sekolah dasar, misalnya.

Atau diawali dalam lingkungan keluarga. Di lingkungan itu, anak sejak dini sudah dikondisikan untuk bersentuhan dengan media cetak, baik itu surat kabar, majalah, ataupun buku. Bukan begitu?

Fungsi Perpustakaan

Sementara kalangan ada yang menganggap bahwa perpustakaan bukanlah suatu tempat yang begitu penting. Ia tak lebih hanyalah sebagai suatu pelengkap saja dari sebuah gedung atau perusahaan atau suatu lembaga. Ini dapat kita saksikan jika kita menengok ke sebuah lembaga pendidikan, misalnya di perguruan tinggi atau perpustakaan sekolah.

Masih ada saja suatu perguruan tinggi yang perpustakaannya belum dikelola secara baik dan memadai. Entah dalam pemilihan ruang/gedung, penataan koleksi, penyediaan sarana dan prasarana dll. Bahkan pengelolanya pun kadang banyak yang mempunyai latar belakang pendidikan bidang lain dibidang perpustakaan. Sementara yang berlatar pendidikan Ilmu Perpustakan jarang bahkan tidak ada sama sekali.

Terlepas dari adanya dana atau tidak untuk memenuhi semua itu, yang jelas keberadaan sebuah perpustakaan tidak bisa diabaikan begitu saja. Baik itu perpustakaan umum maupun perpustakaan yang bernaung di bawah lembaga tertentu. Sebab eksistensi perpustakaan dalam masyarakat dan para penggunanya atau sering pula disebut dengan user/pemustaka, mempunyai fungsi yang sangat erat dengan kepentingan mereka. Secara umum fungsi-fungsi tersebut dapat digolongkan menjadi :

1. Fungsi sebagai penyimpan karya manusia, khususnya karya cetak, karya rekam dan karya-karya lain yang didalamnya termuat berbagai informasi penting dalam berbagai bidang yang dapat digunakan untuk keperluan manusia.

2. Fungsi pendidikan, merupakan tempat belajar di luar bangku pendidikan (non formal) maupun tempat belajar dalam lingkungan pendidikan itu sendiri (formal).

3. Fungsi informasi, dengan menyediakan kemudahan bagi pemakai berupa akses yang cepat terhadap informasi yang tepat dan dibutuhkan dalam bidang apapun karena pada hakekatnya semua perpustakaan melaksanakan fungsi informasi.

4. Fungsi rekreasi, mempunyai peran penting dalam mendorong minat baca terutama pada waktu senggang dengan menyediakan bahan bacaan ringan dan bacaan-bacaan hiburan.

5. Fungsi kultural, merupakan tempat untuk mendidik dan mengembangkan apresiasi budaya masyarakat serta secara aktif mempromosikan partisipasi dan apresiasi semua bentuk seni dan budaya seperti yang sering dilakukan oleh Karta Pustaka Yogyakarta, UPT Perpustakaan UGM dan sejumlah perpustakaan lainnya

Jika melihat fungsi diatas maka tak heran bila ada pula sementara kalangan yang menganggap bahwa perpustakaan dan seluruh komponennya merupakan suatu hal yang sangat penting dan vital. Terutama bagi para praktisi pendidikan di perguruan tinggi. Karena dalam hal ini perpustakaan turut membantu melaksanakan Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat.

Ada ungkapan yang menyatakan bahwa perpustakaan adalah jantungnya perguruan tinggi (pendidikan). Oleh karena itu jika ingin melihat tingkat kemajuan pendidikan di suatu perguruan tinggi maka lihatlah perpustakaannya. Demikian pula jika kita ingin melihat tingkat kemajuan peradaban suatu bangsa maka lihatlah perpustakaannya.

Pengertian, Peran, dan Fungsi Perpustakaan

Pengertian, Peran, dan Fungsi Perpustakaan


Pada zaman global sekarang, pendidikan merupakan sesuatu yang penting. Karena pendidikan merupakan akar dari peradaban sebuah bangsa. Pendidikan sekarang telah menjadi kebutuhan pokok yang harus dimiliki setiap orang agar bisa menjawab tantangan kehidupan.Untuk memperoleh pendidikan, banyak cara yang dapat kita capai. Diantaranya melalui perpustakaan. Karena di perpustakaan berbagai sumber informasi bisa kita peroleh, selain itu banyak juga manfaat lain yang dapat kita peroleh melalui perpustakaan. Ketika kita mendengar kata perpustakaan, dalam benak kita langsung terbayang sederetan buku-buku yang tersusun rapi di dalam rak sebuah ruangan. Pendapat ini kelihatannya benar, tetapi kalau kita mau memperhatikan lebih lanjut, hal itu belumlah lengkap. Karena setumpuk buku yang diatur di rak sebuah toko buku tidak dapat disebut sebagai sebuah perpustakaan.

Memang pengertian perpustakaan terkadang rancu dengan dengan istilah – istilah pustaka, pustakawan, kepustakawanan, dan ilmu perpustakaan. Secara harfiah, perpustakaan sendiri masih dipahami sebagai sebuah bangunan fisik tempat menyimpan buku – buku atau bahan pustaka. Untuk itu, pada pembahasan kali ini akan dikupas secara mendalam tentang pengantar umum perpustakaan yang meliputi : pengertian perpustakaan, maksud dan tujuan pendirian perpustakaan, jenis – jenis perpustakaan, peranan, tugas, dan funsi perpustakaan, aktifitas pokok perpustakaan, dan perpustakaan sebagai disiplin ilmu.

Pengertian Perpustakaan
Perpustakaan diartikan sebuah ruangan atau gedung yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu yang digunakan pembaca bukan untuk dijual ( Sulistyo, Basuki ; 1991 ).

Ada dua unsur utama dalam perpustakaan, yaitu buku dan ruangan. Namun, di zaman sekarang, koleksi sebuah perpustakaan tidak hanya terbatas berupa buku-buku, tetapi bisa berupa film, slide, atau lainnya, yang dapat diterima di perpustakaan sebagai sumber informasi. Kemudian semua sumber informasi itu diorganisir, disusun teratur, sehingga ketika kita membutuhkan suatu informasi, kita dengan mudah dapat menemukannya.

Dengan memperhatikan keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa perpustakaan adalah suatu unit kerja yang berupa tempat menyimpan koleksi bahan pustaka yang diatur secara sistematis dan dapat digunakan oleh pemakainya sebagai sumber informasi. ( Sugiyanto )

Menurut RUU Perpustakaan pada Bab I pasal 1 menyatakan Perpustakaan adalah institusi yang mengumpulkan pengetahuan tercetak dan terekam, mengelolanya dengan cara khusus guna memenuhi kebutuhan intelektualitas para penggunanya melalui beragam cara interaksi pengetahuan.

Perpustakaan adalah fasilitas atau tempat menyediakan sarana bahan bacaan. Tujuan dari perpustakaan sendiri, khususnya perpustakaan perguruan tinggi adalah memberikan layanan informasi untuk kegiatan belajar, penelitian, dan pengabdian masyarakat dalam rangka melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi (Wiranto dkk,1997).

Secara umum dapat kami simpulkan bahwa pengertian perustakaan adalah suatu institusi unit kerja yang menyimpan koleksi bahan pustaka secara sistematis dan mengelolanya dengan cara khusus sebagai sumber informasi dan dapat digunakan oleh pemakainya.

Namun, saat ini pengertian tradisional dan paradigma lama mulai tergeser seiring perkembangan berbagai jenis perpustakaan, variasi koleksi dalam berbagai format memungkinkan perpustakaan secara fisik tidak lagi berupa gedung penyimpanan koleksi buku.

Banyak kalangan terfokus untuk memandang perpustakaan sebagai sistem, tidak lagi menggunakan pendekatan fisik. Sebagai sebuah sistem perpustakaan terdiri dari beberapa unit kerja atau bagian yang terintergrasikan melalui sistem yang dipakai untuk pengolahan, penyusunan dan pelayanan koleksi yang mendukung berjalannya fungsi – fungsi perpustakaan.

Perkembangannya menempatkan perpustakaan menjadi sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya. Dari istilah pustaka, berkembang istilah pustakawan, kepustakaan, ilmu perpustakaan, dan kepustakawanan yang akan dijelaskan sebagai berikut :

1. Pustakawan : Orang yang bekerja pada lembaga – lembaga perpustakaan atau yang sejenis dan memiliki pendidikan perpustakaan secara formal.

2. Kepustakaan : Bahan – bahan yang menjadi acuan atau bacaaan dalam menghasilkan atau menyusun tulisan baik berupa artikel, karangan, buku, laporan, dan sejenisnya.

3. Ilmu Perpustakaan : Bidang ilmu yang mempelajari dan mengkaji hal – hal yang berkaitan dengan perpustakaan baik dari segi organisasi koleksi, penyebaran dan pelestarian ilmu pengetahuan teknologi dan budaya serta jasa- jasa lainnya kepada masyarakat, hal lain yang berkenaan dengan jasa perpustakaan dan peranan secara lebih luas.

4. Kepustakawanan : Hal – hal yang berkaitan dengan upaya penerapan ilmu perpustakaan dan profesi kepustakawanan.

B. Maksud dan Tujuan Pendirian Perpustakaan

Aktifitas utama dari perpustakaan adalah menghimpun informasi dalam berbagai bentuk atau format untuk pelestarian bahan pustaka dan sumber informasi sumber ilmu pengetahuan lainnya. Maksud pendirian perpustakaan adalah :

Menyediakan sarana atau tempat untuk menghimpun berbagai sumber informasi untuk dikoleksi secara terus menerus, diolah dan diproses.
Sebagai sarana atau wahana untuk melestarikan hasil budaya manusia ( ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya ) melalui aktifitas pemeliharaan dan pengawetan koleksi.
Sebagai agen perubahan ( Agent of changes ) dan agen kebudayaan serta pusat informasi dan sumber belajar mengenai masa lalu, sekarang, dan masa akan datang. Selain itu, juga dapat menjadi pusat penelitian, rekreasi dan aktifitas ilmiah lainnya.
Tujuan pendirian perpustakaan untuk menciptakan masyarakat terpelajar dan terdidik, terbiasa membaca, berbudaya tinggi serta mendorong terciptanya pendidikan sepanjang hayat ( Long life education ).

C. Jenis – Jenis Perpustakaan

Jenis – jenis perpustakaan yang ada dan berkembang di Indonesia menurut penyelenggaraan dan tujuannya dibedakan menjadi :

Perpustakaan Digital adalah Perpustakaan yang berbasis teknologi digital atau mendapat bantuan komputer dalam seluruh aktifitas di perpustakaannya secara menyeluruh. Contohnya : Buku atau informasi dalam format electiric book, piringan, pita magnetik, CD atau DVD rom.
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, selanjutnya disebut Perpustakaan Nasional, adalah Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) yang melaksanakan tugas pemerintahan di bidang perpustakaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang berkedudukan di Ibukota Negara.
Perpustakaan Provinsi adalah Lembaga Teknis Daerah Bidang Perpustakaan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Provinsi yang mempunyai tugas pokok melaksanakan pengembangan perpustakaan di wilayah provinsi serta melaksanakan layanan perpustakaan kepada masyarakat.
Perpustakaan Kabupaten/Kota adalah Lembaga Teknis Daerah Bidang Perpustakaan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, yang mempunyai tugas pokok melaksanakan pengembangan perpustakaan di wilayah Kabupaten/Kota serta melaksanakan layanan perpustakaan kepada masyarakat umum.
Perpustakaan Umum : Perpustakaan yang ada di bawah lembaga yang mengawasinya. Perpustakaan umum terbagi atas :
Perpustakaan Umum Kecamatan, adalah Perpustakaan yang berada di Kecamatan sebagai cabang layanan Perpustakaan Kabupaten/Kota yang layanannya diperuntukkan bagi masyarakat di wilayah masing-masing.
Perpustakaan Umum Desa/Kelurahan adalah perpustakaan yang berada di Desa/Kelurahan sebagai cabang layanan Perpustakaan Kabupaten/Kota yang layanannya diperuntukkan bagi masyarakat di desa/kelurahan masing-masing.
Perpustakaan Khusus : Perpustakaan yang diperuntukkan untuk koleksi- koleksi tokoh terkenal. Contohnya : Perpustakaan Bung Hatta.
Perpustakaan lembaga Pendidikan : Perpustakaan yang berada di lingkungan lembaga pendidikan (SD, SMP, SMA, PT, dan LSM). Contohnya : perpustakaan Universitas. Pada perpustakaan tingkat PT, perpustakaan dapat dibagi kembali menjadi dua, yaitu : perpustakaan pusat dan perpustakaan tingkat fakultas.
Perpustakaan Lembaga Keagamaan : Perpustakaan yang berada di lingkungan lembaga keagamaan. Contohnya : Perpustakaan Masjid, perpustakaan Gereja, dll
Perpustakaan Pribadi : Perpustakaan yang diperuntukkan untuk koleksi sendiri dan dipergunakan dalam ruang lingkup yang kecil. Contohnya : Perpustakaan keluarga.
D. Peranan, Tugas, dan Fungsi Perpustakaan

Peranan Perpustakaan

Setiap perpustakaan dapat mempertahankan eksistensinya apabila dapat menjalankan peranannya. Secara umum peran – peran yang dapat dilakukan adalah :

Menjadi media antara pemakai dengan koleksi sebagai sumber informasi pengetahuan.
Menjadi lembaga pengembangan minat dan budaya membaca serta pembangkit kesadaran pentingnya belajar sepanjang hayat.
Mengembangkan komunikasi antara pemakai dan atau dengan penyelenggara sehingga tercipta kolaborasi, sharing pengetahuan maupun komunikasi ilmiah lainnya.
Motivator, mediator dan fasilitator bagi pemakai dalam usaha mencari, memanfaatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan pengalaman.
Berperan sebagai agen perubah, pembangunan dan kebudayaan manusia.
Tugas Perpustakaan

Setiap perpustakaan memiliki kewajiban yang sudah ditentukan dan direncanakan untuk dilaksanakan. Tugas setiap jenis perpustakaan berbeda – beda sesuai dengan kewajiban yang ditetapkan.

Fungsi Perpustakaan

Pada umumnya perpustakaan memiliki fungsi yaitu :

Fungsi penyimpanan, bertugas menyimpan koleksi (informasi) karena tidak mungkin semua koleksi dapat dijangkau oleh perpustakaan.
Fungsi informasi, perpustakaan berfungsi menyediakan berbagai informasi untuk masyarakat.
Fungsi pendidikan, perpustakaan menjadi tempat dan menyediakan sarana untuk belajar baik dilingkungan formal maupun non formal.
Fungsi rekreasi, masyarakat dapat menikmati rekreasi kultural dengan membaca dan mengakses berbagai sumber informasi hiburan seperti : Novel, cerita rakyat, puisi, dan sebagainya.
Fungsi kultural, Perpustakaan berfungsi untuk mendidik dan mengembangkan apresiasi budaya masyarakat melalui berbagai aktifitas, seperti : pameran, pertunjukkan, bedah buku, mendongeng, seminar, dan sebagainya.
Hal-hal yang Menghambat Fungsi Perpustakaan Sekolah

Perjalanan perpustakaan sekolah tidaklah semulus yang diharapkan. Ada beberapa hal yang sering menghambat fungsi perpustakaan sekolah. Pertama, terbatasnya ruang perpustakaan di samping letaknya yang kurang strategis. Banyak perpustakaan yang hanya menempati ruang sempit, dengan tanpa memperhatikan kesehatan dan kenyamanan. Kesadaran dari pihak sekolah sebagai penyelenggara sangatlah kurang. Perpustakaan hanyalah untuk menyimpan koleksi bahan pustaka saja. Pengunjung tidak merasa nyaman membaca buku di perpustakaan, sehingga perpustakaan dipandang sebagai tempat yang kurang bermanfaat. Dengan melihat keadaan di atas sepertinya pihak sekolah kurang menyadari tentang pentingnya perpustakaan. Keberadaan perpustakaan hanyalah untuk pelengkap saja.

Kedua, keterbatasan bahan pustaka, baik dalam hal jumlah, variasi maupun kualitasnya. Keberadaan bahan-bahan pustaka yang bermutu dan bervariasi sangatlah penting. Dengan banyaknya variasi bahan pustaka, anak akan semakin senang berada di perpustakaan, kegemaran membaca dapat tumbuh dengan subur sehingga kemampuan bahasa siswa dapat berkembang baik dan dapat membantu anak dalam memahami pelajaran-pelajaran lainnya. Mengingat kemampuan bahasa merupakan kemampuan dasar yang sangat berpengaruh dalam belajar. Begitu juga jika bahan pustakanya bermutu, maka anak akan banyak memperoleh pengetahuan yang berguna dalam hidupnya. Namun, untuk mengadakan bahan pustaka yang banyak dan bervariasi dibutuhkan dana yang sangat besar, mengingat harga bahan pustaka biasanya mahal, lebih-lebih jika bahan pustaka tersebut bermutu. Namun, dari pihak sekolah sendiri sering kurang berusaha untuk menambah koleksi bahan pustaka, dengan alasan utama adalah mahalnya harga bahan pustaka. Padahal, anggaran untuk belanja bahan pustaka setiap tahunnya selalu ada, namun jumlah bahan pustaka tidak pernah bertambah.

Ketiga, terbatasnya jumlah petugas perpustakaan (pustakawan). Banyak perpustakaan sekolah yang tidak ada petugasnya, atau hanya tugas sambilan. Maksudnya, mereka bukan petugas yang hanya mengurus perpustakaan saja, sehingga sering tugas di perpustakaan jadi dikesampingkan dan perpustakaan dianggap kurang bermanfaat. Lebih-lebih bertugas di perpustakaan adalah pekerjaan yang sangat menjenuhkan, baik dalam hal pelayanan pengunjung maupun perawatan bahan pustaka yang ada, sehingga dibutuhkan suatu kesabaran yang tinggi.

Keempat, kurangnya promosi penggunaan perpustakaan menyebabkan tidak banyak siswa yang mau memanfaatkan jasa layanan perpustakaan. Anak kurang tahu tentang kegunaan perpustakaan, begitu juga dengan bahan pustakanya. Dia membutuhkan dorongan dan ajakan untuk berkunjung ke perpustakaan.

Aktivitas Pokok Perpustakaan

Untuk mencapai visi, misi, dan tujuannya perpustakaan menjalankan aktifitas – aktifitas pokok meliputi : pengembangan, pengolahan, dan pelayanan koleksi.

Perkembangan Disiplin Ilmu Perpustakaan

Cara melihat sesuatu sebagai disiplin ilmu (Scwab,. 1990;7)

Subyek kajian
aplikasi dan kapasitas
metode
hasil akhir
Ilmu perpustakaan dan informasi menurut Syhabuddin Qolyabu (2003; 63) diartikan sebagai ilmu yang mempelajari dan mengkaji rekaman informasi, struktur, dinamika dan transferan informasi, cara memperoleh, mencatat, menyimpan dan menemukankembali untuk didayagunakan dan didistribusikan.

Ilmu perpustakaan dapat dikatakan sebagai disiplin dapat dilihat dari tiga dimensi, yaitu produk, proses dan masyarakat (Daoed Joesoef 1987). Disiplin ilmu menurut Thomson sebagai body of knowledge, sekelompok konsep yang diajarkan bersama.

Perpustakaan dipandang sebagai ilmu dari tiga aspek yaitu :

1. Ontologis, ilmu perpustakaan dapat dikaji dari definisi dan obyek yang menjadi kajiannya.

2. Epistemologis, bahwa ilmu perpustakaan memiliki kerangka pemikiran logis dan konsisten dengan argumen yang tersusun sebelumnya, menjabarkan hipotesisi sebagai deduksi kerangka pemikirannya, dan melakukan falsifikasi dan verifikasi atas hipotesisi dan mengujinya secara faktual.

3. Aksiologis, bahwa terbukti ilmu perpustakaan telah membawa kemaslahatan bagi umat manusia.

Dengan demikian ilmu perpustakaan dapat berdiri sebagai disiplin ilmu tersendiri. Saat ini perkembangannya terpengaruhi oleh banyak bidang ilmu namun syarat-syarat diatas bisa terpenuhi.

macam-macam perpustakaan

Perpustakaan online

Perpustakaan online adalah perpustakaan yang berada di dunia maya/cyber dan tidak berbentuk buku tetapi hanta data atau tulisan yang diambil dari sebuah buku karya dari seseorang.

perpustakaan online memang murah dan kita tidak usah capek-capek untuk mebeli buku yang kita inginkan ke toko buku tetapi hanya dengan membuka internet saja.tetapi perpustakaan online juga mempunyai kelemahan yaitu kita susah mencari buku yang kita inginkan dalam duni internetDan kita juga harus mencari diantara beberapa halaman untuk mencari daftar situs buku yang akan kita cari


2.Perpustakaan berjalan

Perpustakaan ini jarang sekali kita temukan.Karena jenis perpustakaan ini memang jarang ada di Indonesia dan jumlahnya sangat sedikit sekali di Indonesia


3.Perpustakaan

Jenis perpustakaan ini adalah jenis perpustakaan yang biasa ada di seluruh IndonesiaPerpustakaan ini berada dalam sebuah ruangan yang bukunya di atur dalam rak-rak buku yang sudah tersedia.Biasanya perpustakaan ini ada di seluruh sekolah di Indonesia

Sejarah perpustakaan indonesia

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) atau Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) adalah Perpustakaan Nasional yang berada di Jakarta, Indonesia. Perpustakaan ini memiliki tugas menyimpan data-data dan informasi negara. Perpusnas juga merupakan salah satu Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden.

Awalnya, Perpustakaan Nasional RI merupakan salah satu perwujudan dari penerapan dan pengembangan sistem nasional perpustakaan, secara menyeluruh dan terpadu, sejak dicanangkan pendiriannya tanggal 17 Mei 1980 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Daoed Joesoef. Ketika itu kedudukannya masih berada dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan setingkat eselon II di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan, dan badan ini merupakan hasil integrasi dari empat perpustakaan besar di Jakarta.

Keempat perpustakaan tersebut, yang kesemuanya merupakan badan bawahan DitJen Kebudayaan, adalah:

* Perpustakaan Museum Nasional;
* Perpustakaan sejarah, politik dan sosial (SPS);
* Perpustakaan wilayah DKI Jakarta;
* Bidang Bibliografi dan Deposit, Pusat Pembinaan Perpustakaan;

Walau secara resmi Perpustakaan Nasional berdiri di pertengahan 1980, namun integrasi keseluruhan secara fisik baru dapat dilakukan pada Januari 1981. Sampai tahun 1987 Perpusnas masih berlokasi di tiga tempat terpisah, yaitu di Jl. Merdeka Barat 12 (Museum Nasional), Jl. Merdeka Selatan 11 (Perpustakaan SPS) dan Jl. Imam Bonjol 1 (Museum Naskah Proklamasi). Sebagai kepala Perpustakaan Nasional adalah ibu Mastini Hardjoprakoso, MLS, mantan kepala Perpustakaan Museum Nasional.

Atas prakarsa Almarhumah Ibu Tien Suharto, melalui Yayasan Harapan Kita yang dipimpinnya, Perpustakaan Nasional memperoleh sumbangan tanah seluas 16,000 m² lebih berikut gedung baru berlantai sembilan dan sebuah bangunan yang direnovasi. Lahan yang terletak di Jl. Salemba Raya 28A, Jakarta Pusat, merupakan lokasi Koning Willem III School (Kawedri), yakni sekolah HBS pertama di Indonesia ketika zaman kolonial. Bangunan sekolah inilah yang kemudian setelah direnovasi menjadi gedung utama yang digunakan untuk kantor pimpinan dan sekretariat. Gedung di sebelahnya yang berlantai sembilan berfungsi sebagai perpustakaan yang sebenarnya, di mana koleksi bahan pustaka tersimpan dan dilayankan untuk umum.

Dengan selesainya pengerjaan sebagian gedung baru maupun yang direnovasi di Jl. Salemba Raya 28A pada awal 1987, pimpinan dan staf dari tiga bidang (kecuali Bidang Koleksi) pindah ke lokasi tersebut. Gedung baru itu beserta segala perlengkapannya menyatukan semua kegiatan di bawah satu atap yang sebelumnya terpencar di beberapa tempat di Jakarta. Pada usia Perpusnas yang ke-9, secara resmi kompleks itu dibuka yang ditandai dengan penandatanganan sebuah prasasti marmer oleh Presiden dan Ibu Tien Suharto pada tanggal 11 Maret 1989.

Namun, sejalan dengan peresmian kompleks tersebut, sebetulnya ada peristiwa lain yang tidak kalah pentingnya. Sejarah mencatat bahwa lima hari sebelumnya, tepatnya tanggal 6 Maret 1989, telah ditandatangani sebuah keputusan monumental oleh Presiden RI melalui keputusan presiden Nomor 11 Tahun 1989 ini menetapkan Perpustakaan Nasional, setelah digabung dengan Pusat Pembinaan Perpustakaan (pimpinan Drs. Soekarman, MLS) , menjadi Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Kenaikan status kelembagaan ini juga berarti Perpusnas dilepas dari jurisdiksi Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Departemen Pendidikan Nasional), badan induknya yang telah membesarkannya sejak 1980. Ibu Mastini Hardjoprakoso masih dipercaya oleh Pemerintah untuk memimpin lembaga baru ini. Kenyataan ini sekaligus membuktikan komitmen Pemerintah di dalam menaikkan derajat perpustakaan (dan pustakawan) yang selama itu dirasakan selalu “dilupakan”. Menurut catatan ketika penggabungan, jumlah koleksi berkisar di angka 600 ribu eksemplar, ditangani oleh sekitar 500 orang karyawan yang berlokasi di dua tempat terpisah, Jl. Salemba Raya 28A dan Jl. Merdeka Selatan 11. Saat ini (Desember 1999) jumlah koleksi diperkirakan 1,100,00 eks, dan jumlah karyawan 700 orang.

Dengan semakin bertambahnya beban tugas dan sejalan dengan kiat Perpusnas dalam menerapkan layanan prima kepada masyarakat, maka diterbitkanlah Keputusan PresidenNomor 50 Tahun 1997 tertanggal 29 Desember 1997. Keppres ini menyempurnakan susunan organisasi, tugas dan fungsi Perpustakaan Nasional guna mengantisipasi era globalisasi informasi yang sudah kian mendekat. Di antara penyempurnaan tersebut adalah menciptakan jabatan deputi setingkat eselon IB dan menaikkan status Perpustakaan Nasional Provinsi (d.h. Perpustakaan Daerah) menjadi eselon II. Melanjutkan kepemimpinan sebelumnya, Hernandono, MA, MLS, menjadi kepala Perpusnas sejak Oktober 1998.

Perpustakaan Nasional RI kini menjadi perpustakaan yang berskala nasional dalam arti yang sesungguhnya, yaitu sebuah lembaga yang tidak hanya melayani anggota suatu perkumpulan ilmu pengetahuan tertentu, tapi juga melayani anggota masyarakat dari semua lapisan dan golongan. Walau terbuka untuk umum, koleksinya bersifat tertutup dan tidak dipinjamkan untuk dibawa pulang. Layanan itu tidak terbatas hanya pada layanan untuk upaya pengembangan ilmu pengetahuan saja, melainkan pula dalam memenuhi kebutuhan bahan pustaka, khususnya bidang ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan, guna mencerdaskan kehidupan bangsa.

Arti dari Lambang

BUKU TERBUKA

Melambangkan sumber ilmu pengetahuan yang senantiasa berkembang

NYALA OBOR

Melambangkan pelita dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa

DUA TANGAN TERKATUP DENGAN LIMA JARI MENOPANG

Melambangkan ilmu pengetahuan baru dapat dicapai melalui pembinaan pendidikan seutuhnya dengan ditunjang oleh sarana pustaka yang lengkap

LIMA DASAR PENUNJANG DAN LIMA SINAR MEMANCAR

Melambangkan dasar falsafah Pancasila dalam ilmu pengetahuan menghasilkan manusia Indonesia seutuhnya yang berguna bagi nusa dan bangsa

LATAR BELAKANG LINGKARAN

Melambangkan kebulatan tekad dalam usaha mewujudkan pemerataan pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesia

WARNA BIRU

Adalah warna yang memiliki sifat tenang dan memberikan kesan kedalaman. Jadi, pengertian warna biru pada logo Perpustakaan Nasional RI ialah ketenangan berpikir, dan kedalaman ilmu pengetahuan yang dimiliki merupakan landasan pengabdian kepada masyarakat, nusa dan bangsa.

Tugas, Fungsi, dan Wewenang

Kedudukan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, (yang selanjutnya dalam SK Kaperpusnas No.03/2001 disingkat PERPUSNAS) adalah Lembaga Pemerintah Non Departemen. PERPUSNAS berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Presiden yang dalam pelaksanaan tugas operasionalnya dikoordinasikan oleh Menteri Pendidikan Nasional. PERPUSNAS mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan dibidang perpustakaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Tugas dan Fungsi :

PERPUSNAS mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan dibidang perpustakaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam melaksanakan tugas, PERPUSNAS menyelenggarakan fungsi:

Mengkaji dan menyusun kebijakan nasional dibidang perpustakaan;

mengkoordinasikan kegiatan fungsional dalam pelaksanaan tugas PERPUSNAS;

Melancarkan dan membina terhadap kegiatan instansi Pemerintah dibidang perpustakaan;

Menyelenggarakan pembinaan dan pelayanan administrasi umum dibidang perencanaan umum, ketatausahaan, organisasi dan tata laksana, kepegawaian, keuangan, kearsipan, persandian, perlengkapan dan rumah tangga.

Wewenang :

Dalam menyelenggarakan fungsinya PERPUSNAS mempunyai kewenangan :

menyusun rencana nasional secara makro, dibidang perpustakaan;

Merumuskan kebijakan dibidang perpustakaan untuk mendukung pembangunan secara makro;

Menetapkan sistem informasi dibidang perpustakaan;

Kewenangan lain yang melekat dan telah dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku yaitu:

merumuskan dan pelaksanaan kebijakan tertentu dibidang perpustakaan;

merumuskan dan pelaksanaan kebijakan pelestarian pustaka budaya bangsa dalam mewujudkan koleksi deposit nasional dan pemanfaatannya.